Ahli Waris Sultan Himayatuddin dari Keturunan La Karambau – Buton Pos
Metro Baubau

Ahli Waris Sultan Himayatuddin dari Keturunan La Karambau

BUTONPOS.FAJAR.CO.ID, BAUBAU – Wali Kota Baubau, AS Tamrin mengungkapkan ahli waris pahlawan nasional Almarhum Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi atau Oputa Yi Koo bukan harus dari trah sultan seperti Sultan Hamengku Buwono di Yogyakarta.

Sultan Himayatuddin, Ruhana Kudus, Prof M Sardjito, Abdoel Kahar Moezakir, Alexander Andries (AA) Maramis dan KH Masykur merupakan enam tokoh yang ditetapkan sebagai pahlawan nasional oleh pemerintah pusat pada peringatan hari pahlawan November 2019 lalu.

“Sultan Himayatuddin satu-satunya yang memang bekas sultan. Tetapi Ahli warisnya bukan harus dari tah Sultan, tapi dari keturunan pribadinya La Karambau sebagai tetesan darah dari beliau,” ujar AS Tamrin didampingi Ketua Tim Pengkaji Peneliti Pahlawan Daerah (TP2D) Dr Tasrifin Tahara, kepada awak media, di Rujab Wali Kota di Baubau, Minggu (01/12/2019).

Pasca Sultan Himayatuddin disetujui sebagai pahlawan nasional, AS Tamrin kemudian meminta tim menelusuri ahli waris untuk dipersiapkan ikut menghadiri penerimaan tanda penghargaan. “Rupanya Pak Ali Mazi salah satu dari sekian banyak ahli waris,” ujar dia.

Ketua DPD PAN Baubau ini pun meminta agar hal ini tidak menjadi polemik, namun melahirkan kesyukuran. Serta menjadi pintu dan pendongkrak tambahan untuk menuju Provinsi Kepulauan Buton.

Ia lantas menceritakan lika-liku perjuangan mendorong Oputa Yi Koo menjadi salah satu pahlawan nasional ke pemerintah pusat. Proses pengusulannya sudah terpikirkan sejak 17 tahun lalu.

“Waktu itu kita membentuk yayasan Wolio Molagi. Salah satu topik yang mengemuka saat itu mengenai pengusulan kepahlawanan Oputa Yi Koo,” ungkap Wali Kota Baubau dua periode ini.

Wali Kota juga sedang menggagas ritual kesyukuran atas penobatan mendiang La Karambau itu sebagai pahlawan nasional.

“Rasa syukur itu saya sudah sampaikan ke Gubernur untuk kita wujudkan dalam sebuah ritual. Kita baca doa pekande-kandea, kita akan pesta dalam rangka mensyukuri itu” ujarnya.

Ditempat sama, ketua tim Pengkaji Peneliti Pahlawan Daerah (TP2D), Tasrifin Tahara menjelaskan, sejarah pengusulan La Karambau sebagai pahlawan nasional bukan perkara mudah. Tim yang dibentuk harus menghimpun barbagai unsur, baik dari tokoh masyarakat, akademisi yang komponen memenuhi syarat, tokoh adat serta sultan.

“Ada banyak hal yang kami revisi seperti naskah akademik dan riwayat kepahlawanan ditambah beberapa dokumen resmi seperti penetapan lokasi kuburan kemudian penetapan ahli waris. Karena dari usulan sebelumnya banyak masukan-masukan dari tim pusat untuk diperbaiki,” beber Tasrifin.

Untuk ahli waris, beber akademisi Unhas Makassar ini, pihaknya terlebih dahulu melakukan riset panjang yang melibatkan beberapa informan baik saja tokoh masyarakat maupun tokoh yang dianggap kompeten.

Kata dia, pengumpulan informasi ahli waris tersebut disesuaikan hasil penelusuran jejak-jejak tertulis di rumah Mulku Zahari. Dimana, rumah Mulku menyimpan sejumlah naskah kuno Buton.

“Jadi tidak bisa diklaim kalau ini milik kami atau milik kamu. Karena masing-masing orang punya pegangan,” tandasnya.

Ia juga membeberkan alasan menetapkan makam La Karambau berada di kawasan Benteng Keraton Kesultanan Buton Kota Baubau. Pertama, data arkeologis menunjukkan ada makam di belakang kuburan Sultan Murhum di Lelemangura.

“Kemudian ada narasi sejarah setelah beliau wafat di Siontapina itu dibawa ke Keraton. Itulah narasi yang menguatkan,” tambah Tasrifin.(exa/jun)



Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA POPULER

Copyright © 2019 Butonpos

To Top