Backpacker Religi di Negeri Jiran (30) Masjid Bebas Spanduk – Butonpos
Metro Baubau

Backpacker Religi di Negeri Jiran (30) Masjid Bebas Spanduk

irwansyah amunu

‌Catatan: Irwansyah Amunu

MUSIM politik yang mendera Baubau dan Sultra, membuat wajah kota berubah. Hampir semua sudut kota Benteng Terluas di Dunia ini dipenuhi spanduk figur yang bakal maju dalam Pilgub dan Pilwali nanti.

Tiang listrik, pohon, pagar, dinding bangunan, mobil, bahkan bak sampah tak luput menjadi korban penempelan pamflet, baliho, spanduk, stiker atau media lainnya yang digunakan para figur untuk memperkenalkan diri kepada pemilih. Mulai dari yang berukuran kecil, hingga raksasa.

Momen politik ditambah dengan Ramadan 1438 H, hasilnya aneka media “jual diri” tersebut semakin bertambah. Ibarat jamur yang tumbuh di musim hujan, perkembangannya sulit diatur. Akibatnya rona kota menjadi awut-awutan tak bermodel.

Serbuannya hingga masuk ke tempat sakral, di pagar-pagar masjid. Akibatnya, masjid untuk sementara berubah menjadi sarana sosialisasi dadakan dengan bermotif ucapan selamat menunaikan ibadah puasa, hingga selamat Lebaran Idul Fitri 1 Syawal 1438 H.

Saking banyaknya spanduk yang ditempel, beberapa masjid harus merelakan pagarnya menjadi tempat bergelantungan media sosialisasi para figur. Makin tinggi kasta masjidnya, kian banyak pula spanduk yang bertengger. Semakin besar ukuran masjid, dan semakin banyak jamaahnya, dijamin spanduknya pun semakin banyak.

Saking banyaknya spanduk dipajang, ada masjid yang pagarnya untuk sementara hilang. Penuh sesak terpasang spanduk.

Bukan hanya figur, sejumlah iklan produk juga tak mau ketinggalan. Mereka sigap memanfaatkan momentum ini. Korbannya pun sama, pagar masjid. Akibatnya beberapa masjid babak belur karena serbuan spanduk.

Soal ini, saya salut dengan Lakina Agama Masjid Al Muttaqin, Kelurahan Wajo, Kecamatan Murhum, Kota Baubau, Drs H La Ode Makmuni. Dengan tegas melarang pemasangan spanduk di pagar masjid yang dipimpinnya. Saya menyaksikan sendiri ketika ada yang hendak memasang spanduk di pagar masjid, dilarang.

Jadi tengok saja masjid kebanggaan warga Wajo tersebut, hingga kini masih “perawan” dari spanduk.

Untuk bisa seperti itu, memang dibutuhkan ketegasan. Dengan demikian masjid tidak dipengaruhi kepentingan politik pragmatis dan keinginan brand komuditas tertentu untuk menjajakan profil dan produknya.

Nah, menyinggung tentang ketegasan, saya teringat salah satu masjid besar yang sempat saya datangi bersama keluarga ketika dalam perjalanan menuju negeri jiran Singapura dan Malaysia. Di pagar masjidnya tertulis: Dilarang Pasang Spanduk Disini.

Hasilnya luar biasa ampuh. Tak ada selembar pun spanduk atau apa pun media sosialisasi figur atau produk yang tertempel disitu. Masjid bebas spanduk. Apakah hal ini bisa terealisir di kota kita?(***)

BERITA POPULER

Enter ad code here
Enter ad code here
-DPRD-BAUBAU-HUT-RI-280x300.jpg" alt="" width="280" height="300" class="alignnone size-medium wp-image-212078" />

Copyright © 2016 Butonpos

To Top