Boti Unik – Buton Pos
Metro Baubau

Boti Unik

Irwansyah-Amunu
Irwansyah-Amunu

– Islam di Negeri Khalifatul Khamis (15)

Boti atau Lambo merupakan bukti kehebatan masyarakat Buton mengarungi ganasnya samudra. Ya, samudra, karena dengan kapal yang terbuat dari kayu tersebut pelaut Buton mampu menjelajah hingga ke Madagaskar, wilayah Afrika.

Antropolog Unhas, Dr Tasrifin Tahara menjelaskan Lambo berasal dari kata large boat. Sedangkan Boti dari boat. Mengadopsi teknologi di Selat Malaka.

Lambo dan Boti, lanjutnya, serapan dari Bahasa Inggris. Bahasa Wolio yang diserap dari perjumpaan kebudayaan di Sangkapura. Boti hanya dikenal di Buton, namun secara umum termasuk dunia menyebut Lambo.

Baik Lambo maupun Boti, kata Tasrifin, dunia pun mengetahuinya itu milik Buton.

Lambo sudah ada sejak masa Kesultanan Buton, menjadi moda transportasi utama. Eksis sejak empat abad silam.

Karenan harus bertahan lama di air, tambah Tasrifin, materil Lambo murni terbuat dari kayu klas I, jati dan bitti (wola). Satu armada Lambo butuh 20-an kubik. Harganya Rp 200 juta, sudah termasuk ongkos tukang Rp 60 jutaan.

Waktu pengerjaannya tergantung kesediaan bahan baku. Bisa tiga bulan sudah dengan ritualnya. Secara sosiologis, orang Buton sejak di pohon sudah ditanya kayunya apa mau jadi perahu. Tentu dengan ukuran dan potongan yang disesuaikan dengan kebutuhan.

Apa keunikannya dibandingkan dengan Pinisi? Tasrifin menjawab Lambo bisa bertambat (berlabuh) dimana saja tidak butuh dermaga yang besar. Laut dan angin (alam) sangat bersahabat karena lambo selalu membutuhkan keseimbangan.

Lambo sangat sederhana dan tidak model kapitalis seperti Pinisi. Kecenderungan konsep tol laut direpresentasikan oleh lambo karena bisa menjadi jembatan di wilayah mana saja termasuk pulau-pulau kecil. Muatannya semua komoditas yang berasal dari pulau-pulau kecil.

Tasrifin menyarankan revitalisasi nilai lambo karena lambo tidak dilihat sebagai kebudayaan material tapi banyak nilai terkandung didalamnya. Lambo adalah spirit budaya orang Buton.

Secara terpisah, budayawan Buton asal Unidayan, Dr La Ode Abdul Munafi menambahkan, di Dongkala, Kabupaten Buton misalnya, masih dihasilkan perahu hingga bobot 50 ton. Perahu-perahu hasil sentra industri lokal ini umum dioperasikan ke Kawasan Timur Indonesia (KTI). Kepandaian yang sama juga masih didapatkan di Buton Selatan (Busel), Buton Utara (Butur), dan Wakatobi.

Mantan Wakil Ketua DPRD Baubau ini berharap, eks wilayah Kesultanan Buton yang sudah menjadi kabupaten/kota dapat dikembangkan sebagai sentra industri perkapalan dalam menunjang tol laut.

Apalagi bhangka/lambo (perahu) punya keunikan yang tidak sama dengan pinisi. Antara lain dari segi ukuran, bhangka lebih kecil, lebih pendek, dan konstruksinya seperti tempurung.(Follow Twitter: @irwansyahamunu)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA POPULER

To Top