DD Wawoangi Diduga Markup dan Fiktif – Buton Pos
Hukum

DD Wawoangi Diduga Markup dan Fiktif

la ode tuangge

BUTONPOS.COM, BATAUGA – Dugaan tindak pidana korupsi dana desa tahap II tahun 2016 Desa Wawoangi, Kecamatan Sampolawa, Kabupaten Buton Selatan. Diduga kerugian negara mencapai ratusan juta rupiah.

Modusnya diduga melakukan laporan kegiatan fiktif dan mark up anggaran.

Ketua DPP Lembaga Pemerhati Kebijakan Publik (LPKP) Sultra La Ode Tuangge mengungkapkan dari hasil investigasi pihaknya menemukan dugaan mark up anggaran dan laporan fiktif terjadi dalam dokumen pertanggungjawab penggunaan DD.

Dalam surat bernomor 002/SL-LPKP/B/I/2017 pada dokumen pelaporan pertanggungjawaban pengerjaan talud penahan tanah kuat dugaan markup pembelian semen sebanyak 60 sak dengan harga Rp 8.526.000 yang seharusnya hanya Rp 5.880.000.

Ironisnya dalam laporanya disebutkan membeli harga tinggi. Padahal seharunya dengan harga terendah yaitu harga semen tahun 2016 Rp 72.000.

Parahnya lagi pembayaran air sebanyak 37 drum dengan harga Rp 50.000 per drum.

Tapi kata La Ode Tuangge dalam fakta realisasi pekerjaan tidak ada pembelian air. Air diangkut oleh warga secara bersama-sama.
Kuat dugaan terjadi laporan fiktif.

Belum lagi ditemukan, mark up pembelian semen sebanyak 200 zak dengan harga Rp 98.000 per zak total harga Rp 25.480.000 yang seharusnya hanya Rp 19.600.000. Padahal harga saat itu Rp 72.000 perzak.

“Jika ada alasan ongkos pembayaran pengangkutan ini pun juga tak rasional,” ujarnya beberapa waktu lalu melalui telefon selulernya.

Temuan lain pembayaran molen dengan harga Rp 1.750.000 tapi dalam proses pengerjaanya tidak menggunakan molen. Kuat dugaan terjadi fiktif.

“Ada lagi temuan pembayaran air sebanyak 70 drum dengan total biaya Rp 6.000.000. Tapi dalam proses pekerjaan diangkut oleh warga secara bersama-sama, ini juga fiktif,” ujarnya.

Sedangkan kegiatan pemberdayaan masyarakat pelatihan pengurus BUMdes pembuatan krupuk dengan biaya Rp 9.450.000 tapi pada kenyataanya terjadi indikasi tidak pernah dilakukan kegiatan tersebut.

Belakangan kalang kabut meminta tanda-tangan warga untuk laporan kegiatan tersebut.

Pada item pekerjaan jalan usaha tani ditemukan penggunaan batu gunung sebanyak 382 m3 yang menelan anggaran Rp 144.600.000. Kuat dugaan ini juga terjadi mark up. Sebab kondisi ini tidak rasional dengan kondisi yang ada di lapangan.

Ditemukan pula pembelian semen untuk jalan usaha tani sebanyak 400 zak harga Rp 98 ribu perzak dengan total Rp 77.420.000. Seharusnya hanya Rp 39.200.000. Membeli semen dengan harga tertinggi seharusnya harga terendah.

Selain itu ditemukan lagi pembayaran air sebanyak 129 drum dengan total 10.000.000. Dari hasil investigasi LPKP pengangkutan air itu diangkut warga secara bersama-sama.

Anehnya lagi penyewaan mobilisasi alat berat (Fibro) dengan biaya Rp 40 juta.

“Menurut kami ini tidak sesuai karena mobilisasi terlalu besar memakan biaya,” katanya.

Pada poin pekerjaan jalan lingkungan pembelian batu kerikil sebanyak Rp 16 juta. Tapi faktanya di lapangan tidak menggunakan batu kerikil

La Ode Tuangge mengaku sudah mempertanyakan hal ini kepada Kades Wawoangi La Ode Abdul Halim saat bertemu di Jakarta. Namun alasan Kades mengaku pihaknya hanya manusia biasa penuh kehilafan.

Atas temuan ini pihaknya mengancam akan melaporkan hal ini ke Reskrim Polres Buton.

Sejumlah warga Wawoangi juga dikabarkan akan siap “bernyanyi” terkait dugaan mark up dan pekerjaan fiktif tersebut.

Wartawan media ini sudah berupaya lebih dari lima kali menghubungi Kades Wawoangi La Ode Abdul Halim melalui telefon selulernya untuk mengkonfirmasi persoalan tersebut namun tak ada jawaban.

Sekitar dua hari kemudian media ini pula mencoba menghubungi kembali melalui telefon selulernya juga tak ada jawaban.

Terpisah Sekretaris Desa Wawoangi La Ode Martono ketika dikonfirmasi mengatakan, tudingan tersebut tidak benar adanya. Bukti laporan pertanggungjawaban dana desa tahun 2016 juga sudah disajikan dengan benar.

“Pak Kades masih di Jakarta, ada urusan program dari Kementrian yang akan dikucurkan ke Wawoangi,” ujarnya.

Ia menilai ada dugaan politisasi atas persoalan tersebut. Ia juga mencium aroma kuat tendensi politik atas kasus tersebut.(p20)

 

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA POPULER

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!