Ditangkap Pemerintah Australia, Kapal Nelayan Busel Terancam Dibakar – Butonpos
Hukum

Ditangkap Pemerintah Australia, Kapal Nelayan Busel Terancam Dibakar

KAPAL DARI DESA BAHARI

BUTONPOS.COM, BATAUGA – Kosekwensi terburuk jika terbukti melanggar hukum otoritas perbatasan Australia, kapal nelayan asal Wapulaka, Desa Bahari I, Kecamatan Sampolawa, Buton Selatan, dibakar dan didenda.

Kapal yang dibawa lima orang nelayan pencari ikan hiu asal Wapulaka itu diamankan otoritas Pemerintah Australia 8 Oktober 2017. Diduga nelayan ini menangkap ikan hiu melewati perbatasan Indonesia dan masuk ke perairan Australia.

Lima awak kapal tesebut yakni La Ode Karman (Nakhoda), Rendi, La Sarwan, La Supri, dan La Tanari (anak buah kapal).

“Kejadian ini bukan pertama kali, pada biasanya lima atau 10 tahun lalu itu jika sudah ditahan seperti itu kalau sudah terbukti melanggar, kapalnya bisa ditebus. Tapi sekarang agak sulit karena jumlah dendanya cukup besar dan mahal, biasanya kapalnya dibakar. Kepastian proses hukumya kita belum ketahui, tapi lima orang nelayan beserta kapalnya ini sudah ditahan di Darwin Australia,” Kata Kades Bahari I La Jedi kepada media ini, Kamis (12/10).

Kata dia, pihak keluarga hilang kontak sudah lima hari. Pihak keluarga mendapatkan informasi penahanan nelayan tersebut dari Pemkab Busel melalui Camat Sampolawa. Dari informasi tersebut ia juga memastikan lima orang nelayan ini sudah diamankan Pemerintah Otoritas Australia.

“Iya betul nelayan warga Desa Bahari I, mereka sudah hilang kontak lima hari lalu, informasi terakhir dari Pak Camat dari DKP Busel melalui KBRI Darwin Australia benar ada warga Buton Selatan ditahan otoritas Australia,” katanya.

Ia menduga ada dua kemungkinan sengaja masuk atau tidak dibawa arus sehingga bisa masuk di perairan Australia. “Pengalaman saya waktu masih melaut, kalau kuat arus 8 mil per 12 jam kemudian jarak titik koordinat perbatasan hanya 6 mil pasti kita sampai di Australia,” kata pria yang baru dua tahun menjabat Kades Bahari I ini.

Kata dia pihak keluarga optimis lima nelayan ini dibebaskan dari otoritas Australia. “Pihak keluarga hanya cukup pasrah, sedih, dan cemas. Tapi optimis kapal dan mereka semua aman dan kapalnya belum dibakar. Karena biasanya kalau sudah terbukti bersalah masuk otoritas baru dibakar dan bayar denda,” katanya.

Ia mengaku hampir sebagian besar warganya berprofesi sebagai nelayan tangkap hiu yanga tangguh. Sudah melintasi samudra hingga perairan perbatasan antara negara.

La Jedi mengaku, nasib warga nelayan tersebut belum diketahui pasti. Jika terbukti pasca kejadian itu mereka dimediasi dengan pemilik kapal untuk mengganti rugi akibat peristiwa tersebut.

Ia mengakui pada lima atau sepuluh tahun lalu biasanya ada tembusan dari pihak pemilik kapal. Jika terbukti melanggar biasanya proses hukumnya membayar denda berkisar di bawah Rp 100 juta. Tapi saat ini denda di atas Rp 300 juta.

“Jika ditebus juga para nelayan tidak mampu lebih baik membuat kapal baru. Jika terbukti kemudian mereka juga akan diproses hukum. Tapi biasanya yang agak lama kurunganya itu juraganya/nakhoda. Kalau ABK diproses tiga atau dua minggu selesai dan dideportasi ke Indonesia,” katanya.

Ia menjelaskan, sekaliun juga berada di perairan Indonesia tapi kalau sering masuk ke wilayah Australia pasti ketahuan. Karena ada rekaman juga satelit pemantau perairan Australia yang cukup canggih. Di JPS juga kalau sering masuk di wilayah perairan Australia kalau tidak dihapus cepat berarti secara otomatis itu menjadi barang bukti bahwa masuk ke wilayah Australia.

“Pemeriksaan di sana ketat, data harus akurat. Biasanya kalau sudah dekat wilayah perairan perbatasan Australia harus dihindari. Kerena memang peralatan meraka canggih sudah akurat datanya otoritas Australia,” katanya.

Sementara itu, Camat Sampolawa La Ode Asri membenarkan adanya penangkapan kapal dari Desa Bahari I itu. Pihaknya sudah berkoordinasi dengan DKP untuk menindaklanjuti hal tersebut. Dia berharap para nelayan ini secepatnya dipulangkan ke Indonesia.

Terpisah Kadis DKP Busel Heru Sungkowo mengatakan, insiden ini sudah terjadi beberapa kali menimpa warga nelayan Desa Bahari. Terkadang hal seperti ini terjadi bukan karena kesengajaan. “Karena ini musim barat dan utara sehingga pada saat mereka menangkap ikan di perbatasan itu memang alat tangkapnya masih berada di perairan Indoensia tapi kapalnya sudah hanyut ke perairan Australia,” ke;as Heru Sungkowo.

Prev1 of 3

Click to comment

BERITA POPULER

To Top