Dua Istilah Politik Jokowi ‘Sontoloyo dan Genderuwo’ – Buton Pos
Nasional

Dua Istilah Politik Jokowi ‘Sontoloyo dan Genderuwo’

BUTONPOS.COM, JAKARTA – Belum usai kontroversi pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait politikus Sontoloyo, kini sebutan Politik ‘Genderuwo’ keluar dari mulut Calon Presiden (capres) nomor urut 01 itu.

Jokowi kembali menyindir politikus yang muncul di permukaan dengan gaya yang menakut-nakuti Masyarakat. Gaya ini disebut Jokowi sebagai Politik Genderuwo. Genderuwo sendiri merupaka mitos Jawa. Ia disebut berasal dari bangsa Jin yang berwujud mirip kera, dan bertubuh besar.

Presiden melihat, sekarang banyak politikus yang pandai memengaruhi masyarakat, namun yang amat disayangkan olehnya, para pelaku politik cenderung tidak memandang etika berpolitik dan keberadaban.

Menurut Jokowi, cara-cara propaganda, menakut-nakuti, membuat kekhawatiran di tengah msyarakat, sehingga masyarakat menjadi ragu. Politik seperti itu, dikatakan sebagai politik yang tak beretika. Yang dinamakan Jokowi sebagai Politik Genderuwo.

“Cara-cara seperti ini adalah cara-cara politik yang tidak beretika. Masak masyarakatnya sendiri dibuat ketakutan? Itu namanya politik genderuwo, menakut-nakuti,” ujar Jokowi seperti yang dirilis oleh Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden, Bey Machmudin.

Presiden berharap agar cara-cara berpolitik serupa itu segera ditanggalkan dan selayaknya bagi masyarakat untuk memperoleh contoh politik yang baik dan menghadirkan kegembiraan pesta demokrasi di Indonesia.

Menurut Jokowi, kegembiraan demokrasi ini tentu hanya dapat dicapai dengan cara-cara yang sesuai dengan kesantunan yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia. Politik yang dibiarkan berjalan dengan menihilkan etika sudah sewajarnya harus dihindari.

“Kita harus mengarahkan kematangan dan kedewasaan berpolitik dengan cara-cara seperti itu (santun). Oleh sebab itu, sering saya sampaikan: hijrah dari ujaran kebencian kepada ujaran kebenaran, hijrah dari pesimisme kepada optimisme, hijrah dari kegaduhan ke kerukunan dan persatuan,” tutur Presiden, berharap.

Kata Sontoloyo yang keluar dari Mulut Presiden juga, sebelumnya menjadi kontroversi. Jokowi mengingatkan agar berhati-hati dengan sejumlah Politikus yang kerap mengorbankan persatuan demi kepentingan semata. Kata Jokowi, mereka disebut sebagai Politikus Sontoloyo.

“Hati-hati saya titip ini, hati-hati. Hati-hati banyak politikus yang baik-baik, tapi juga banyak politikus yang sontoloyo,” kata Presiden di lapangan Ahmad Yani, Jakarta Selatan, Selasa (23/10) lalu.

Hal itu terkait dengan rencana pemerintah untuk memberikan dana kelurahan pada 2019, selain dana desa yang sudah disalurkan sejak 2015 lalu.

Namun, Presiden tidak menjelaskan politikus mana yang menurutnya adalah politikus sontoloyo.

Setelah menuai kontroversi, Istilah Sontoloyo ini, kemudian diperjelas oleh Jokowi. Menurut Jokowi, menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) banyak cara-cara yang tidak sehat yang digunakan oleh politisi. Segala jurus dipakai untuk memperoleh simpati rakyat tapi yang tidak baik.

Sering menyerang lawan-lawan politik dengan cara-cara yang tidak beradab, tidak etis, tidak ada tata kramanya.

Jokowi menegaskan, saat ini zamannya adalah politik adu program, kontestasi program, kontestasi adu gagasan, adu ide, adu prestasi, adu rekam jejak. Bukan justru sebaliknya yang terkadang sampai menimpulkan konflik hingga perpecahan.

“Kalau masih memakai cara-cara lama seperti itu, masih politik kebencian, politik sara, politik adu domba, politik pecah belah, itu yang namanya itu politik sontoloyo,” ucap Presiden Jokowi. (dal/fin)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA POPULER

To Top