Festival Keraton Masyarakat Adat Asean (FKMA) VI Po5, Santiago di Makam Sultan Murhum, Dihadiri Raja dan Sultan Luar Negeri – Buton Pos
Metro Baubau

Festival Keraton Masyarakat Adat Asean (FKMA) VI Po5, Santiago di Makam Sultan Murhum, Dihadiri Raja dan Sultan Luar Negeri

BUTONPOS.FAJAR CO.ID, MOMENTUM Festival Keraton Masyarakat Adat Asean (FKMA) VI Po5 digelar santiago di Makam Sultan Murhum yang dihadiri raja dan sultan luar negeri, Rabu (20/11). Bagaimana prosesinya?

Laporan: Irwansyah Amunu

TERIK matahari yang membakar kulit tak menghilangkan kemeriahan prosesi Santiago yang digelar sekitar pukul 10.30 Wita. Sejak pukul 10.00 Wita, baruga yang terletak di tepi istana sudah dipadati para raja, sultan, dan tamu undangan lainnya dari Nusantara dan mancanegara.

Acara dimulai setelah Sultan Buton, dr H LM Izat Manarfa dan Wali Kota Baubau, Dr H AS Tamrin tiba di Istana Kamali Kara yang terletak di areal Benteng Keraton. Sejumlah perangkat adat terkait prosesi Santiago lantas berjejer membentuk formasi.

Sebelumnya juga dibacakan kepada hadirin ihwal Santiago. Santiago merupakan tradisi berziarah ke makam para Sultan-sultan Buton yang ada di dalam Benteng Keraton dan sekitarnya.

Di era Kesultanan Buton dilaksanakan pada tanggal 2 Syawal setelah salat Isya hingga menjelang salat subuh yang turut dimerihkan oleh pejabat kesultanan dan masyarakat. Karena begitu ramai dan meriahnya kegiatan yang berlangsung di hari ke-2 lebaran Idul Fitri ini, maka sering disebut dengan raraea malo, yang berarti berlebaran di malam hari. Pada era pendudukan Jepang karena keadaan yang tidak memungkinkan, maka pemerintah Kesultanan Buton mengadakan Santiago di pagi hari tanggal 2 Syawal hingga sore menjelang malam.

Iring-iringan Santiago terdiri dari pasukan inti kesultanan Buton yang disebut dengan kompanyia sejumlah 11 regu yang dilengkapi dengan tambur (tamburu) dan bendera (tombi). Selain kompanyia, santiago dilengkapi dengan Salawatu, pau karatasi (payung kertas kesultanan), para Bonto yinunca (menteri-menteri yang bertugas di istana), para prajurit dan para pejabat kesultanan Buton lainnya. Pada prosesi Santiago ini ikut serta dua orang moji (aparat Masjid Agung Kearaton) untuk memimpin doa.

Salawatu yang merupakan seorang perempuan muda yang mengenakan pakaian kombo memegang kabubusi (air yang diberi wewangian berupa jeruk purut dan kembang kamboja) yang digunakan untuk menyiram makam Sultan. Salawatu ini dipayungi oleh kenipau (pemegang payung kesultanan) sebagai bentuk penghormatan akan jasa-jasa para sultan yang pernah memimpin Buton. Setelah moji membaca doa maka akan dilakukan penyiraman makam Sultan.

Iring-iringan kompanyia akan memainkan tari galangi di depan kamali (istana Sultan), Masigi Ogena (Masjid Agung Keraton Buton), Baruga dan setiap makam Sultan sebagai bentuk penghormatan terhadap para Sultan yang telah mangkat.

Setelah itu rombongan bergerak menuju depan Masjid Agung Keraton. Mereka diterima perangkat Masjid Agung. Selanjutnya menuju Makam Sultan Murhum.

Untuk diketahui, hajatan tersebut sekaligus dirangkaikan syukuran penobatan Pahlawan Nasional Sultan Buton ke-20 dan ke-23, Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi atau Oputa Yi Koo.

Sejumlah raja dan sultan di Indonesia dan Asean hadir dalam prosesi Santiago. Diantaranya sultan dari Malaysia, Thailand, dan Jambi.(***)



Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA POPULER

Copyright © 2019 Butonpos

To Top