Kapan Boti ke UNESCO? – Buton Pos
Metro Baubau

Kapan Boti ke UNESCO?

Irwansyah-Amunu
Irwansyah Amunu

– Islam di Negeri Khalifatul Khamis (18)

BUTONPOS.COM PBB melalui sidang ke-12 Komite Warisan Budaya Takbenda UNESCO di Jeju Island, Korea Selatan, Kamis (7/12) 2017, menetapkan usulan Indonesia, yaitu Pinisi: Seni Pembuatan Perahu di Sulawesi Selatan (Pinisi: Art of Boatbuilding in South Sulawesi) ke dalam UNESCO Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity.

Ajuan Pinisi mengacu pada sistem tali temali dan layar sekuner Sulawesi. Bagaimana dengan Boti atau Lambo?

Bupati Buton, La Bakry dan Pj Wali Kota Baubau, Hado Hasina setuju bila Boti diusulkan menjadi warisan budaya dunia. Sekab Buton Selatan (Busel), La Siambo menambahkan, bisa didaftarkan di UNESCO, hanya kendala dan tantangannya saat ini kelangkaan material kayu untuk pembuatannya.

Lebih detil, Kadis Pariwisata Busel, Mukmin merespon positif gagasan tersebut. Untuk lebih maksimal, bagusnya melibatkan banyak pihak, termasuk akademisi.

Sama dengan Kadis Pariwisata Baubau, Ali Arham sangat setuju karena Boti merupakan perahu berukuran medium, alat transpotasi pelayaran dan perdagangan etnis Buton yang menjelajahi Nusantara dan belahan dunia dengan mengandalkan angin. Untuk menghidupkan layarnya sesuai arus laut ke tempat tujuan misalnya, Singapura, Malaysia, Filipina, Tiongkok, Australia, atau Afrika Selatan.

Perahu Lambo atau Boti, kata Ali, dapat bertahan dari binatang kecil air laut dengan menggunakan kapur atau gala-gala mencegah kebocoran bodi perahu.

Secara terpisah, Kadis Pendidikan Baubau, Masri menyatakan pihaknya sedang melakukan pendataan Warisan Budaya Tak Benda (WBTB). Ia setuju bila Boti salah satu yang direkomendasikan.

Safrin Sappe, Kadis Pariwisata Buton Tengah (Buteng) juga sependapat. Hanya saja, untuk wilayah Buton Kepulauan perlu riset yang dalam tentang di daerah mana aslinya asal-muasal Lambo.

Begitupun dengan Kadis Pariwisata Buton Utara (Butur), Harlin Hari, dan Kadis Pariwisata Wakatobi, Nadar sepakat jika Boti diusulkan ke UNESCO. “Iya. Itu gagasan luar biasa. Perlu ada yang mengkoordinir untuk dibuatkan proposalnya. Biasanya tahapannya adalah diusulkan dulu untuk ditetapkan sebagai WBTB nasional baru lanjut ke UNESCO,” beber Nadar.

Biasanya, kata Nadar, ditetapkan dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Sesuai Tupoksi, yang tepat untuk mengkoordinir pihak Dinas Dikbud.

Bagaimana dengan akademisi? Dosen Unidayan, Dr La Ode Abdul Munafi menyatakan tepat. Sebab bhangka/Lambo (Boti) juga punya keunikan yang tidak sama dengan Pinisi.

Lebih jauh, Antropolog Unhas, Dr Tasrifin Tahara menjelaskan Lambo atau Boti bisa ditetapkan sebagai warisan budaya dunia seperti Pinisi kalau Pemda mau bersinergi. Caranya kuatkan secara kelembagaan, libatkan akademisi untuk mengkaji Lambo sebagai budaya warisan dunia dan peradaban Buton.

Hasil kajian kemudian dilakukan pengusulan oleh Pemda kepada Kemendikbud, juga ke UNESCO. Wakatobi, Baubau, Buton, Buton Tengah, Buton Selatan, Bombana dan Buton Utara simbol pemersatunya adalah Lambo. Karena itu dasar kebudayaan kita adalah maritim.

Pengusulannya ke UNESCO bisa dilakukan gotong royong semua daerah eks Kesultanan Buton plus Pemprov Sultra? Bisa, kata Tasrifin, karena itu warisan budaya Kesultanan Buton. Itulah dari dulu, ia sering melontarkan pernyataan bahwa untuk perekat wilayah dalam rangka mendukung percepatan Provinsi Kepulauan Buton hanya dengan politik kebudayaan Lambo.

Kini obsesinya yang belum terwujud, membangun “Lambo Edukatif” di Kotamara. Perahu di dalamnya ada perpustakaan dan pelayanan kesehatan, sekaligus spirit untuk generasi bahwa Buton adalah bangsa maritim yang kuat. Maritim itu Islami.

Kapan Boti ke UNESCO? Pemprov Sultra plus Pemkot Baubau, Pemkab Buton, Busel, Buteng, Butur, dan Wakatobi yang bisa menjawab. (Follow Twitter: @irwansyahamunu)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA POPULER

To Top