Kisah Penulis Kondang, Wa Ode Wulan Ratna Masa Kecil Sering Dengar Dongeng, Besar Terpaut di Sastra – Buton Pos
Metro Baubau

Kisah Penulis Kondang, Wa Ode Wulan Ratna Masa Kecil Sering Dengar Dongeng, Besar Terpaut di Sastra

Wa Ode Wulan Ratna

Wa Ode Wulan Ratna Wanita kelahiran 23 Agustus 1984, wanita penulis kondang yang bergelut di dunia sastra yang setengah jiwanya terpaut dengan sastra dan Cerpen. Dimana sejak semasa kecilnya, Wulan (sapaan) sering diperdengarkan cerita rakyat ataupun cerita pewayangan oleh sang ibu sebagai dongeng sebelum tidur.

Laporan: Darmono Djunuhi– Buton Pos

WANITA yang selalu memperlihatkan keanggunan dan kecantikan performanya ini, ternyata telah lama bergelut dengan polesan kata puitis serta sastra sejak usianya beranjak dewasa. Setidaknya telah banyak kosakata ataupun referensi fiksi maupun non fiksi yang telah dimuntahkannya melalui sebuah karya cerita.

Kendati demikian, Wulan Ratna pertalian antara darah Buton dan betawi ini, tidak lelah untuk menetaskan karya dan menceritakan kisah fiksinya untuk para pembaca yang budiman. Tetapi walaupun banyak orang yang segan mendekatinya, namun Wulan selalu ingin menyesuaikan dirinya dengan ruang lingkup tutur bahasanya.

Semenjak umur dua tahun,  Wa Ode Wulan Ratna sudah diboyong oleh sang ayah beserta ibunya di Kota Kendari.  Disinilah asal muasal ia sering mendengarkan cerita hikayat maupun dongeng sebelum tidur dari sang ibunda tercinta.

Ulasan cerita sang ibu  yang kegemarannya suka memperdengarkan cerita dongeng lokal kepada Wulan, seperti bawang merah dan bawang putih, si Kancil, cerita Ramayana, Mahabrata dan lainnya.  Itu hanya sekelumit kisah yang selalu diceritakan kepada Wa Ode Wulan Ratna sejak kecil,  sehingga membuat Ia (Wulan) hanyut dalam nuansa lamunan sastra dan dongeng kisah masa lalu.

karena kedua orang tuanya sibuk dan  saudaranya banyak beraktifitas disekolah,  sewaktu masih tinggal di Kendari yang bertempat di Puatu. Disini, Wulan lebih banyak berteman dengan buku dongeng dan koleksi kaset cerita seperti Dewi Bulan Purnama, boneka Susan bahkan bukunya sampai dengan berseri dan dikendari sampai dengan tamat SD.

Setelah masuk pada sekolah menengah pertama (SMP),  Wa Ode Wulan Ratna sudah diajak oleh kedua orang tuanya untuk bersekolah di SMP Kelapa gading Jakarta sekitar tahun 1996. Ternyata duduk dibangku SMP tersebut, Ia ketemu lagi dengan literasi yang selama ini sangat dirindukan dan apalagi kebanyakan buku yang didapat  mengenai karangan luar negeri.

Karena banyaknya buku literatur tersebut, akhirnya ia terpengaruh melanjutkan untuk menulis kembali.  Bukan hanya cerpen yang dibacanya, namun sudah ke arah novel yang menceritakan mengenai kehidupan remaja dan mengenai romantisme percintaan.

Banyak buku yang menjadi motivasi untuk memulai lagi tulisannnya,  dengan menggunakan media buku tulis. Saat itu ia menulis dengan menggunakan manual (tangan) sudah biasa membuat novel dan menyelesaikannya selama satu sampai dengan dua mingguan.

Tulisan ini, didasari oleh imajinasinya dan kadang juga terispirasi dengan buku yang pernah Ia baca  dengan membiarkannya mengalir begitu saja. Sehingga dari titik melahirkan bait, dari bait menciptakan baris dan dari baris hingga tercipta paragraf yang menjadi cerita.

“Novel hasil tulisanku,  terkadang saya bagikan kepada semua teman-teman yang ada disekolah, Judul Novelku kadang beragam  salah satunya seperti skoci terakhir ini terispirasi dari film Titanic, dibalik drama Sektir, Rahasia Kartini, maya dihari kamis dan cerita pendek ini saya tulis pada waktu masih duduk di SMP,”ungkap Wa Ode Wulan Ratna pada koran ini.

Setelah masuk dibangku SMA,  saat itu ia tidak terlalu giat menulis, bahkan ia sudah mulai hanyut dalam membaca buku mengenai sastra, buku puisi seperti karangan Taufik Ismail, Ws. Rendra dan beberapa pengarang tersohor lainnya asal Indonesia.

“Inspirasi untuk menulis puisi sempat mendapatkan kendala sampai kelas tiga SMA. Saat itu Saya masih bersekolah di SMA 72  Kelapa Gading Jakarta yang dimana pada saat itu saya masuk pada jurusan IPA,”imbuhnya.

Namun lanjut Wulan, kesulitan tersebut sirnah perlahan, karena setelahnya ia sering  menerima  pesanan dari beberapa kelas yang meminta untuk dibuatkan cerpen dan naskah drama. Apalagi  Ia (Wulan) merasa kayak kebanjiran job dari teman satu sekolah yang saat itu sudah cukup mengenal diri Wa Ode Wulan Ratna mengenai dari beberapa banyak tulisan yang pernah dituangkannya melalui sebeuh cerita pendek dan masih dalam lingkup sekolah menengah atas.

“Saat itu lingkup sekolah dan teman-temanku,  lebih mengetahui aku sebagai sosok yang menyenangi dunia sastra dan terbilang puitis.
Jadi untuk menulis ulang dipapan tulis dan membaca karya sastra, saat itu menjadi proses aku untuk lebih mendalami karya sastra,”ujar Wulan dengan logat jawanya.

Sambungnya,  jadi perbedaan pada saat Ia menulis di bangku SMP masih berupa fiksi dan pada saat dibangku SMA ia bahkan sudah jatuh cinta kepada sastra. Akhirnya, berbekal dengan hasrat yang terlampau jatuh pada pelukan sastra, pada tahun 2003, Wulan memilih untuk meneruskan minat bakatnya dengan memilih jurusan sastra Murni di Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

“Disini wanita yang akrab disapa WR,  lebih senang menulis kearah cerpen yang terus dilakoninya, Apalagi ia sempat mendapat referensi dari salah satu penulis asal Jogjakarta yang bernama Joni Arya Dinata sehingga lebih banyak mendapatkan pembelajaran penulisan darinya,”beber Wulan Ratna.

Kemudian ditahun 2005,  Wulan mulai memberikan diri untuk mengikuti lomba cerpen dijurusan Bahasa Indonesia dan mendapat juara satu yang berjudul Frakmen 44. “Saat itu juga, Saya masuk dalam unit kegiatan mahasiswa (UKM Jurnalis), dimana kegiatannya seperti membuat majalah dan didalamnya disiapkan rublik untuk cerita pendek. Sehingga pada saat itu banyak orang mengenal saya sebagai sosok orang yang  senang dalam menulis cerita pendek,”terangnya.

Wa Ode Wulan Ratna yang besar di Kota Jakarta, tetapi karya-karya yang dihasilkan lebih banyak bertema lokal, yang dikarenakan ia tidak lepas dari latar belakang keluarganya yang berasal dari Buton, Sulawesi Tenggara.

Perlombaan yang paling besar dan bergengsi adalah cerpen yang diselenggarakan oleh Kemenpora, dimana pada saat itu ia memperoleh juara satu dengan judul cerpennya La Runduma dengan menceritakan mengenai Posuo yang ada di Kepulauan Buton

“Cari aku di Canti adalah buku cerpen karyaku yang mengantarkan aku meraih anugerah sastra Kusala Sastra Khatulistiwa untuk kategori penulis muda berbakat tahun 2008.  Sejak kecil aku sudah akrab didunia imajinasi dari buku-buku yang diberikan oleh sang ayah,”jelasnya.

“Aku pernah menemani ayah yang seorang pelatih dayung,  tinggal di hutan. Saat sendirian, buku-buku itulah yang menjadi kawan bagiku hingga mengasah kemampuannya menuliskan paragraf cerita anak,”ucapnya sambil mengenang masa dulu.

Pada 2003,  Ia menerbitkan buku Perempuan Noktaria,  sebuah cerpen provokatif yang menggugat eksistensi perempuan di masyarakat. Isu itu pantas diangkat karena masyarakat masih memposisikan perempuan berada pada pihak yang lemah dengan membangun sistem nilai dan dimana perempuan harus tinggal di dalamnya. Dimana karya itu juga merupakan wujud ekspresi kegemasannya terhadap konstruksi sosial yang menilai bahwa perempuan cantik haruslah putih atau langsing. Dia menganggap, perempuan lokal berkulit gelap itu lebih cantik dan eksotis.

Disela kesibukannya,  sebagai pengajar matakuliah penulisan kreatif di Universitas Multimedia Nusantara Jakarta, Wa Ode Wulan Ratna gemar melakukan perjalanan ke berbagai daerah untuk menggali potensi sosial-budaya setempat untuk diangkat ke dalam karyanya. Pernah juga Ia menjadi pembicara seminar dan diskusi serta melakukan pertunjukan baca cerpen,  pada tahun 2010 Wa Ode Wulan Ratna pernah berkolaborasi dengan musisi Joshua Igho dalam musikalisasi cerpen di Gedung Kesenian Kota Tegal.

Berikut beberapa sayembara yang pernah diikuti oleh Wa Ode Wulan Ratna (WR)

1. Sayembara Creative Writing Institute (CWI), 2005
2. Sayembara cerpen tema Melayu, Dewan Kesenian Riau (DKR), 2005
3. Sayembara cerpen Krakatau Award Dewan Kesenian Lampung (DKL), 2005
4. Kusala sastra Khatulistiwa, untuk kategori penulis muda berbakat, 2008 Sastrawan terpilih dalam Ubud Writers & Readers Festiva

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA POPULER

To Top