Kisah Perjuangan La Uca, Hidupi Keluarga dari Mengayuh Becak – Buton Pos
Metro Baubau

Kisah Perjuangan La Uca, Hidupi Keluarga dari Mengayuh Becak

MENUNGGU: La Uca duduk di becaknya saat sedang menunggu penumpang. FOTO: SANIUN/BUTON POS

BUTONPOS.COM, Mengayuh becak, menjadi satu-satunya alternatif pilihan La Uca untuk mengais rezeki. Profesi sebagai tukang becak mau tak mau harus dilakoninya. Sebab untuk mencari pekerjaan lain sudah tidak mampu karena faktor usianya yang semakin menua.

Laporan: Saniun— Buton Pos

Di bawah pancaran sinar lampu jalan, terlihat di sana salah seorang lelaki tua yang sedang memarkirkan becaknya di tepi jalan. Tak berselang lama, ia kemudian ikut merubuhkan badannya di kursi becak yang berlapiskan busa tipis. Mungkin ingin menghilangkan kepenatan yang ia rasakan setelah seharian penuh mengayuh becak untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah.

Dari pantulan cahaya lampu kendaraan yang sesekali menyoroti wajahnya, kita bisa melihat dengan jelas wajah lelaki tua kelahiran 1967 silam itu mulai melesu.

Meski jarum jam telah menunjuk pukul 20.30 Wita, angin malam yang mulai terasa dingin ketika menyentuh kulit, lelaki tua yang bernama La Uca itu enggan meninggalkan tempat dimana ia semula memarkir becaknya, ia tetap setia menunggu para penjual sayur, serta penjual ikan di Pasar Karya Nugraha yang mungkin saja tertarik untuk mengunakan jasanya.

“Saya sudah terbiasa, setiap malam pulang di atas jam 10. Saya malas untuk pulang lebih tempo, di rumah saya bosan karena tidak ada kerja,” itulah kata-kata yang keluar dari mulutnya saat diajak bicara oleh wartawan koran ini.

Sebagai kepala keluarga tentu sudah menjadi tanggung jawab La Uca untuk bersikeras menghidupi keluarganya. Tak peduli akan teriknya matahari, demi menghidupi istri dan empat orang anaknya, ia rela kulitnya terbakar oleh sinar matahari juga sesekali terbasahi rintikan hujan, bahkan tertidur di tengah suasana keramaian aktifitas masyarakat pun sudah menjadi hal biasa baginya. Walaupun itu semua tak sebanding dengan rupiah yang masuk ke kantongnya. Namun, bapak Ulan, begitu biasa ia disapa, tak pernah merasa putus semangat.

Ia mengaku, profesi sebagai tukang becak telah ia geluti selama 21 tahun. Sejak tahun 1997, dimana tahun ini bertepatan dengan peresmian KM Lambelu untuk pertama kali berlayar. Meski penghasilan sebagai tukang becak tidak seberapa, namun ia tetap besyukur.

“Penghasilan setiap hari rata-rata Rp 50 ribu. Dari situ dipotong sewa becak Rp 10 ribu per hari, dan uang makan. Sisanya ditabung untuk dikirimkan anak dan istri di kampung (Buton Tengah),” ujarnya.

Di Kota Baubau, La Uca tinggal rumah petak ukuran 3×4. Bangunan berbentuk persegi itu, menjadi tempatnya untuk menghilangkan kepenatan setelah seharian dirinya mengayuh becak, mengelilingi sebagian Kota Baubau guna mencari pundi-pundi rupiah.

Menurut penuturannya, ia datang di Kota Baubau sejak tahun 1960-an. Sebelum memutuskan untuk menjadi tukang becak, ia terlebih dulu bekerja sebagai buruh toko. Yang bekerja memindahkan barang-barang muatan mobil ke dalam toko atau pun sebaliknya.

Selang beberapa tahun bertahan sebagai buruh toko, ia kemudian ditawari oleh kapten kapal pinisi untuk ikut berlayar, menyalurkan beras ke Nusa Tenggara Timur hingga Timor-Timur yang saat itu masih tergabung dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Setelah berhenti kerja di toko, saya ikut-ikut kapal mengantar beras ke NTT sampai Timor-Timur. Berasnya kita muat di Konawe. Jadi hari-harinya kita habis di tengah laut,” ungkapnya.

“Setelah dua tahun ikut kapal, saya berhenti karena mulai tidak suka diperintah. Apalagi ketika disuruh-suruh sesama buruh yang merasa dirinya sudah bekerja lebih lama, saya merasa sakit hati. Sehingga dari situ, saya balik ke Baubau dan mulai membawa becak. Alhamdulillah bertahan sampai dengan sekarang,” akunya. (***)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA POPULER

To Top