Napak Tilas Perjalanan Sejarah Arung Palakka, Memupuk Kembali Persaudaraan Buton dengan Bone – Butonpos
Metro Baubau

Napak Tilas Perjalanan Sejarah Arung Palakka, Memupuk Kembali Persaudaraan Buton dengan Bone

Walikota Baubau Dr AS Tamrin dan Bupati Bone Dr H Andi Fahsar M Padjalangi berada di dalam Gua La Toondu

SETELAH 355 tahun berlalu, kini Pemerintah Kota Baubau dan Kabupaten Bone kembali memupuk hubungan yang telah dijalin oleh para raja dan sultan dulu. Hal itu ditandai dengan digelarnya Napak Tilas Perjalanan Arung Palakka (La Toondu) dari Bone Menuju Buton di Kota Baubau, Selasa (27/12). Berikut Ulasanya.

————————————————————

LAPORAN BALADIL AMIN — KOTA BAUBAU

————————————————————

DALAM cerita masyarakat Arung Palakka yang oleh masyarakat Buton dikenal dengan nama La Toondu menginjakan kakinya di tanah Buton pertama kali di Kelurahan Bonebone, Kota Baubau. Kemudian menyeberang di Jembatan Batu. Selanjutnya menuju Keraton Buton bertemu pihak kerajaan atau kesultanan.

Karena itulah dalam napak tilas perjalanan sejarah Arung Palaka ini, Pemerintah Kabupaten Bone memulai perjalannya di Jembatan Batu setelah tiba dari tanah Bone. Kemudian melakukan perjalanan dengan menggunakan kendaraan roda dua maupun empat menuju keraton.

Sementara itu, di Kelurahan Wajo jalan menuju keraton sudah menunggu iring-iringan masyarakat dan pegawai lingkup Pemerintah Kota Baubau menunggu untuk mengawal perjalanan rombongan Bupati Bone, Dr H Andi Fahsar M Padjalangi MSi bersama Wakil Bupati Bone H Ambo Dalle. Setelah rombongan Pemerintah Kabupaten Bone itu tiba di Kelurahan Wajo, rombongannya pun bersama-sama menuju Benteng Keraton Buton dengan berjalan kaki.

Rombongan dimeriahkan dengan Marching Band dan Karnaval Budaya dari Paguyuban Masyarakat Adat se-Kota Baubau.

Melewati Lawana Labunta (Wandailolo), rombongan dibawah pimpinan Bupati Bone, Andi Fashar M Padjalangi diterima Walikota Baubau Dr AS Tamrin MH dan segenap jajaran petinggi Kota Baubau di Kompleks Benteng Keraton Buton.

Dalam penyambutan itu, masing-masing dari mereka melantunkan ucapan selamat datang sebagai tanda persaudaraan dengan menggunakan bahasa daerah masing-masing. Bupati Bone menggunakan Bahasa Bugis kemudian diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia. Begitupula dengan Walikota Baubau Dr AS Tamrin menyambut Bupati Bone dengan menggunakan Bahasa Wolio kemudian diterjemahkan Kadis Pariwisata Kota Baubau Ali Arham.

Keduanya hanyut dalam pertemuan itu. Dimana kedua kepala daerah itu mengenang sejarah bahwa Bone dengan Buton bersaudara. Sehingga akan saling menjaga dimanapun berada hingga setelah pertemuan itu.

Dalam pertemuan itu, keduanya tidak sanggup menahan rasa haru, sehingga air matanya menetes di pipi mereka. Walikota Baubau maupun Bupati Bone kembali membayangkan bagaimana penyambutan hangat dari Kesultanan Buton kepada Arung Palakka dengan penuh persaudaraan saat itu.

Dalam kesempatan itu juga, persaudaraan mereka dituangkan dalam penandatanganan prasasti “Bone ri Lau-Butung ri Aja” yang berarti Bone di Barat dan Buton di Timur.

Bupati Bone, Andi Fashar M Padjalangi mengatakan, Bone dan Buton itu harus saling menjaga. Mereka adalah saudara.

Menurutnya, napak tilas ini sebagai bukti bahwa generasi saat ini tetap menjunjung tinggi persaudaraan itu. Menjunjung tinggi nilai-nilai luhur, nilai-nilai adat dan budaya yang telah ditanamkan oleh leluhur sejak dahulu.

Persaudaraan Buton dengan Bone itu ditunjukkan dengan kedatangan Arung Palaka atau La Toondu ke tanah Buton pada 1660 yang silam. Dalam sejarahnya Arung Palaka kala itu merupakan pangeran berdarah Bugis bersama rombongannya melakukan perjalanan bersejarah meninggalkan Pantai Palette di tanah Bone menuju tanah Buton.

Arung Palaka yang bernama lengkap La Tenritatta To Unru Tori Sompae Petta Malampe Geme’na Daeng Serang To’Apatunru Paduka Sultan Sala’auddin Matinroe ri Bontoala berkunjung ke tanah Buton sebagai bentuk silaturahmi. Oleh karena La Tenri Tatta To Unru atau lebih dikenal oleh masyarakat Buton dengan nama La Toondu masih garis keturunan dari La Kambau dan La Maindo.

Setibanya di tanah Buton, Arung Palaka berkunjung ke Benteng Keraton Buton dan diterima dengan baik oleh Sapati Baaluwu La Ode Arfani yang masih merupakan kakeknya. Peristiwa ini terjadi pada masa pemerintahan Sultan La Awu bergelar Malik Sirullah. Dalam masa itulah Arung Palaka meninggalkan jejak sejarah yang monumental, yakni Gua Arung Palakka atau Liana La Toondu di seputar Benteng Keraton Kesultanan Wolio yang sekarang ini Kota Baubau.

Peristiwa napak tilas perjalanan sejarah Arung Palakka atau La Toondu dari tanah Bone ke tanah Buton itu, oleh Pemerintah Kota Baubau dan Kabupaten Bone dijadikan sebagai momentum dalam rangka mengukuhkan kembali silaturahmi budaya antara kedua daerah seperjanjian dan dapat lebih dimaksimalkan bagi peningkatan potensi sumber daya untuk pembangunan kedua wilayah.

Napak tilas dimulai dengan karnaval budaya, star dari Jembatan Batu Kota Baubau menuju Benteng Keraton. Sementara Walikota Baubau Dr AS Tamrin bersama Wakil Walikota Baubau Hj Wa Ode Maasra Manarfa bersama perangkat adat Kesultanan Buton menunggu di dalam Benteng Keraton.

Usai pertemuan kedua kepala daerah itu, dilanjutkan dengan penandatanganan prasasti kerjasama antara kedua daerah. Kemudian dilanjutkan dengan mengunjungi Gua Arung Palaka atau Liana La Toondu.

Di gua yang berukuran kecil itu, Bupati Bone yang didampingi Walikota Baubau kembali duduk bersama, sambil mengingat bagaimana Arung Palakka berdiam diri di tempat tesebut. Kembali, dengan mata berkaca-kaca mereka mengenang dan terus berbagi cerita tentang sejarah dahulu.

Selanjutnya, kedua kepala daerah itu menuju Masjid Agung Keraton Buton melakukan salat Dzuhur bersama.

Melalui kegiatan ini, Walikota Baubau, Dr AS Tamrin MH mengajak seluruh generasi muda dan masyarakat Kota Baubau untuk menjaga persaudaraan dan menjunjung tinggi nilai-nilai luhur budaya. Sebagaimana yang telah dibuat leluhur dahulu.

“Mereka itu tidak ada kata-katanya yang menyakitkan hati kita maupun menyakitkan hati masyarakatnya. Semangat ini yang masih ada di dalam pemikiran saya dan bagaimana kita harus ikuti itu,” kata Tamrin meneteskan air mata, saat napak tilas tersebut.

Kegiatan itu, ditutup dengan haroa adat di Baruga Keraton Kesultanan Buton sebagai bentuk rasa syukur atas terlaksananya napak tilas perjalanan sejarah Arung Palakka di Kota Baubau.(*)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top