Pertamina: Premium tidak Ada Kelangkaan – Butonpos
Metro Baubau

Pertamina: Premium tidak Ada Kelangkaan

petrus nong meak

BUTONPOS.COM, BAUBAU – PT Pertamina (Persero) Cabang Baubau mengakui adanya pengurangan stok premium di SPBU yang ada di Kota Baubau. Hal ini guna membiasakan masyarakat migrasi konsumen Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis premium ke BBM nonsubsidi jenis pertalite. Alasan utamanya, dikarenakan tangki timbun yang tidak mencukupi untuk menampung.

“Jadi persoalan premium sebenarnya tidak ada kelangkaan, hanya pengurangan yang dilakukan oleh pemerintah guna membiasakan masyarakat menggunakan produk pertalite dan pertamax, dimana masyarakat kita saat ini masih banyak yang menggunakan premium,” kata Petrus Nong Meak Operation Head PT Pertamina (Persero) Baubau, Jum’at (14/7/2017).

Tadinya, lanjut Petrus cuma ada dua, yakni premium dan solar, dimana setiap SPBU memiliki tangki timbun sebanyak empat buah untuk menampung premium dan solar. Dengan adanya produk baru tersebut, setiap tangki timbun digunakan untuk menampung, satu tangki timbun untuk satu produk.

“Pertamina memiliki produk baru yakni Pertamax Pertalite. Tadinya kan cuma ada dua, yakni premium dan solar, dimana setiap SPBU memiliki tangki timbun sebanyak empat buah untuk menampung premium dan solar. Dengan adanya produk baru tersebut, setiap tangki timbun digunakan untuk menampung, satu tangki timbun untuk satu produk. Jadi bukan karena kurang atau langka stok premium, melainkan dikarenakan kurangnya tangi timbun disetiap SPBU,” jelas Petrus.

Lebih lanjut Petrus menjelaskan migrasi ini (Premium ke Pertalite) bukan hal yang mudah untuk dilakukan, apalagi konsumen sudah terbiasa menggunakan premium, ditambah lagi Premium sama Pertalite gap harganya Rp 800-1.000 per liter, tapi pelan-pelan tumbuhnya. Padahal Pertamina menargetkan setiap tahunnya pertumbuhan konsumsi Pertalite terus meningkat.

“Ketiga produk tersebut fungsinya sama yakni untuk menjalankan kendaraan. Namun ketiganya memiliki perbedaan oktan. Pada Pertamax kadar oktannya 92, Pertalite 90 dan premium 88. Semakin tinggi kadar oktannya maka semakin bagus tarikan kendaraannya. Misalkan orang dia beli Pertalite kendaraannya jadi lebih enak tarikan gasnya tapi memang lebih mahal daripada premium, kalau mau lebih enak lagi beli pertamax yang kadar oktannya 92 cuma lebih mahal,” katanya.

Selain itu, diungkapkan juga, dia optimistis migrasi konsumen BBM Premium ke Pertalite masih tetap berlanjut. Momentum lebaran belum lama ini menjadi salah satu hal yang membuat pertumbuhan konsumsi Pertalite meningkat.

“Diluar negeri, seperti Malaysia dan Singapura yang namanya premium sudah tidak ada lagi, yang ada cuma Pertamax. Sedangkan untuk Indonesia mungkin karena ekonomi masyarakatnya masih belum terjangkau maka masih dikasih BBM oktan 90 saja, sehingga ini mungkin transisi yang dilakukan pemerintah, masyarakat dilatih dulu menggunakan pertalite dan pertamax,” tambahnya.

Untuk mendukung pertumbuhan konsumen Pertalite bisa menyebar di beberapa daerah di Indonesia, Pertamina juga tengah membangun beberapa infrastruktur di beberapa wilayah di luar Jawa. Hal ini dilakukan agar penyebaran konsumsi Pertalite bisa meluas tidak hanya di Pulau Jawa.

“Ini yang kami pacu. Kemarin kan Jawa, Sumatera sudah. Kalimantan belum tersedia, Pertamina siapin. Sulawesi, Maluku, Papua juga akan disiapkan. Namun itu semua masih memerlukan waktu dan biaya, jadi menunggu perencanaan,”imbuhnya.

Berdasarkan data Pertamina, sebelum Pertalite diluncurkan, konsumsi Premium mencapai 93 persen dari total konsumsi BBM. Sementara produk Pertamax dan Pertamax plus sebesar 8 persen. Pada Desember 2015 saat Pertalite sudah muncul dipasaran, komposisi pangsa pasar Premium turun menjadi 87,4 persen dan Pertalite mengambil porsi 3,9 persen.

Porsi Premium kembali turun pada Juli 2016, menjadi hanya 68,7 persen. Sementara Pertalite naik menjadi 15,8 persen. Rata-rata konsumsi Pertalite yang tercatat pada Juli 2015 sebesar 327 kiloliter, lalu melonjak menjadi 15.000 kl pada Juli 2016.

Dalam waktu dua tahun terakhir, pangsa pasar Premium anjlok dari 85 persen menjadi tersisa 44 persen. Saat ini, rata-rata konsumsi Premium hanya 38 ribu kl per hari. Adapun jumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang menjual Pertalite pada juli 2015 baru 103 unit, bertambah menjadi 3.358 unit pada Agustus 2016.

Petrus menyatakan peralihan BBM ke Pertalite bukan untuk menghapus keberadaan Premium. Melainkan untuk memberikan pilihan BBM berkualitas kepada masyarakat.

Dia juga membantah isu terkait stok premium sengaja dikosongkan di beberapa SPBU agar masyarakat mau tidak mau memakai pertalite.

“Tidak ada laporan SPBU kosong Premium secara masif,” tegasnya.

Perlu diketahu, harga Premium jenis penugasan untuk wilayah non-Jamali (Jawa-Madura-Bali) sebesar Rp 6.450 per liter. Sementara Pertalite dijual di beberapa daerah rata-rata dengan harga Rp 7.700 per liter. (po3)

BERITA POPULER

Enter ad code here
Enter ad code here
-DPRD-BAUBAU-HUT-RI-280x300.jpg" alt="" width="280" height="300" class="alignnone size-medium wp-image-212078" />

Copyright © 2016 Butonpos

To Top