Polemik Ketua STAI Baubau, Enam Mahasiswa di DO, Perkuliahan Lumpuh – Buton Pos
Metro Baubau

Polemik Ketua STAI Baubau, Enam Mahasiswa di DO, Perkuliahan Lumpuh

Ilustrasi

BUTONPOS.FAJAR.CO.ID, BAUBAU – Kampus Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) YPIQ sedang menghadapi problem serius. Perkuliahan lumpuh dan enam mahasiswa diberhentikan alias Drop Out (DO).

Masalah ini buntut dari polemik Pemilihan Ketua STAI YPIQ Baubau beberapa waktu lalu. Akibatnya, sekitar 700 mahasiswa juga tak bisa melaksanakan proses perkuliahan secara normal di kampus yang berlokasi di Jln Wa Ode Wau Kelurahan Tanganapa, Kecamatan Murhum itu.

Adapun mahasiswa yang di DO adalah Asis DIY, Ilwan Saputra, Hardi Kamaru, Muhammad Manuru, Habirun, dan Lisdianti Kwaikamtelat. Keenamnya dikeluarkan dari kampus berdasarkan Surat Keputusan (SK) Nomor: ST.SKep.II/PP.00.9/103/XI/2019 yang diteken Pj Ketua STAI YPIQ Baubau, Abdul Madjid dan mengetahui Ketua Yayasan, Muchtasar Ntewo.

“Iya betul (kabar) ada mahasiswa yang kita DO. Jumlahnya ada enam orang,” ungkap Muchtasar Ntewo dihubungi wartawan, Selasa (5/11) kemarin.

Kata dia, enam mahasiswa tersebut dianggap melampaui batas kepatutan menentang kebijakan pemilik kampus tentang Pemilihan Ketua STAI periode baru. Para mahasiswa tersebut berdemonstrasi menuntut kampus tetap mempertahankan pemilihan yang diinisiasi ketua demisioner, Mochammad Tasdik.

“Pada tanggal 10 Oktober lalu, pembina dan ketua yayasan itu mengeluarkan kriteria dan syarat bakal calon ketua STAI, diantaranya bukan aparatur sipil negara (ASN) atau PNS dan berpendidikan minimal S2. Ketua lama itu mengadakan pemilihan tidak sesuai dengan aturan yang dikeluarkan yayasan dan pembina ditambah prosedur yang ada dalam statuta,” urainya.

Kata dia, mahasiswa yang di DO itu bersikukuh mempertahankan Mochammad Tasdik yang nota beneh masih tercatat sebagai pegawai negeri sipil (PNS) lingkup Pemerintah Kota (Pemkot) Baubau.

“Mereka (mahasiswa itu) tidak punya kewenangan mempertahankan ketua lama itu. Mereka demo sudah terlalu keterlaluan, menyegel kampus dan melarang orang kuliah,” ujarnya.

Ia menegaskan, awalnya pihak kampus tidak langsung memberhentikan enam mahasiswa tersebut. Namun, mahasiswa itu tidak menghiraukan teguran lisan dan keras diberikan pihaknya.

“Makanya saya DO. Selama mereka tidak sadar, maka tidak ada lagi ruang buat mereka untuk kembali kuliah,” tukas Muchtasar.

Dia menambahkan, perkuliahan lumpuh sejak mahasiswa mulai menggencarkan demontrasi sejak 26 Oktober 2016. Selain berdemo, mahasiswa itu juga melarang orang kuliah dan menyegel ruangan.

“Perkuliahan masih lumpuh sampai sekarang. Sebenarnya, kemarin sudah tidak ada demo, dosen-dosen mau berikan kuliah kemarin, tapi mereka (mahasiswa) menyegel pintu-pintu ruangan,” pungkasnya.

Sementara itu, salah seorang mahasiswa kena DO, Asis DIY, menceritakan, aksi demonstrasi merupakan bentuk protes atas tindakan yayasan yang menentang hasil pemilihan ketua periode baru yang digelar 20 Oktober lalu. Dimana, senat kembali memilih Mochammad Tasdik menjadi ketua.

“Ketua Yayasan Muchtasar Ntewo malah mengeluarkan SK yang menunjuk Pj Ketua STAI. Kita anggap ini sewenang-wenang dan menolak keras,” beber Asis dikonfirmasi di kampus STAI Baubau.

“Awalnya kita diberi surat teguran keras pada 26 Oktober. Kemudian, demo 31 Oktober, kita diberi surat berisi DO. Kami tidak pernah diajak berdiskusi untuk membicarakan polemik ini,” tuturnya.

Asis yang sudah menyelesaikan kuliah terancam tidak bisa diikutkan dalam yudisium dan wisuda Desember tahun ini. Ia dan teman-temannya berharap kampus mencabut SK DO tersebut.

“Kalau tetap bersikukuh dengan keputusan DO tersebut, maka kita akan mengugat ke pengadilan dan PTUN. Karena kami melihat keputusan DO ini tidak sesuai peraturan perundang-undangan terkait DO,” tandasnya.

Di tempat yang sama, salah seorang alumni 2012 STAI Baubau, Eko mengungkapkan, polemik di perguruan tinggi yang awalnya bernama Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) itu sudah kerap terjadi saat momen pemilihan Ketua STAI. Ia menduga ada kelompok keluarga yang ingin menguasai kampus mau ambil alih ini kampus

“Saya duga juga kalau dibalik konflik ini ada keterlibatan ASN Kemenag Buton Selatan. ASN itu, mantan bendahara di kampus STAI ini. Saya punya bukti rekamannya,” kata Eko. (exa)



Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA POPULER

To Top