Rajiun: PAN Sultra Diambang Kehancuran – Buton Pos
Suara Muna

Rajiun: PAN Sultra Diambang Kehancuran

Rajiun Tumada membuka baju PAN di hadapana para kader dan simpatisan PAN Mubar

BUTONPOS.COM, MUBAR – Partai Amanat Nasional (PAN), saat ini benar-benar terkoyak. Sikap yang ditunjukan DPW PAN Sultra dengan menonaktifkan Rajiun Tumada, sebagai ketua DPD PAN Muna Barat (Mubar), diikuti pengunduran diri sejumlah pimpinan DPD kabupaten/kota lain.

Tercatat 9 kabupaten/kota menyatakan diri keluar dari gerbong partai yang berlambang matahari itu. Apalagi gerakan yang dibangun DPW dinilai sepihak. Bahkan penonaktifan LM Rajiun Tumada, di luar jangkauan dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PAN.

Jika 9 kabupaten/kota di Sultra mundur dari keanggotaan PAN, maka sudah dipastikan kekosongan kader pada tingkatan DPD. Partai yang dulunya besar di Sultra, jatuh seketika.

“Saya dihubungi dengan sekretaris jenderal (Sekjen) DPP tadi malam (Jumat malam, red), bahwa tindakan yang dilakukan DPW PAN Sultra, di luar sepengetahuan DPP. Itu hanya dilakukan sekelompok orang yang menginginkan dinasti kekuasaan,” ungkap, Rajiun, mengutip bahasan Sekjen DPP.

Kata Rajiun, ketua DPW Sultra ini sama dengan sapi perah. Dibawa kemana mau saja. Seharusnya dalam pengambilan kebijakan perpatokan dalam AD/ART. Tetapi karena ketua DPW sekarang dipilih sama dengan karbitan, jadi arah partai masik tidak jelas.

“Ketua DPW PAN Sultra ini kan hasil pemilihan di Bandara, bukan melalui musyawarah. Jadi hampir semua ketua DPD tidak setuju. Tetapi kemudian orangnya tampil seakan dipilih oleh DPD. Padahal itu tidak. Kan sama dengan karbitan, dipaksa untuk masak,” katanya.

Rajiun memastikan, PAN Sultra menghadapi ambang kehancurannya di bawah pengaruh dinasti kekuasaan. Menurut Rajiun, aurah partai sekarang sudah terlihat menurun. Beda saat dipimpin oleh Nur Alam dan Umar Samiun.

“Nakhoda partai kalau saya lihat sekarang ini sama dengan menstruasi politik. Sudah lemah, berpikir membesarkan partai untuk kepentingan pribadi. Ini awal kehancuran, dan itu pasti. Sudah sembilan kabupaten/kota yang kekosongan kader, karena keluar dari PAN,” ujarnya.

Bukan hanya dinasti politik, kata dia, tetapi juga ada dinasti pemerintahan yang digagas orang-orang DPW PAN Sultra. Tetapi itu di luar tubuh PAN. Sebut saja Asrun mantan Walikota Kendari, diganti dengan anaknya ADP.

“Sekarang Asrun calon gubernur. Anaknya ADP, sekarang jadi wali kota. Kemudian distruktur pemerintahan Kota Kendari saat ini, mamanya kepala dinas, saudara-saudara bapaknya kepala dinas. Pamanya di Konsel Bupati, mertuanya juga mantan bupati. Kedepan pasti juga muncul ingin masuk 01 Sultra, setelah bapaknya,” tukas Rajiun.

Nah dari sisi kedaerah, lanjut Rajiun, untuk kepentingan politik jangka panjang sebagian besar mantan kader-kader PAN bagian wilayah kepulauan khususnya Muna Raya, harus berpikir seperti itu. Pemikir dinasti dan sikap ambisius kekuasaan di negeri ini harus dipangkas.

“Kalau menginginkan partai besar, hilangkan dinasti kepartaian. Kemudian kedepan juga pemimpin itu harus cerdas, beradap, serta paham bagaimana kondisi masyarakat kita di Sultra,” terangnya.

Rajiun juga kecewa dengan pernyataan Adriatma Dwi Putra yang menyatakan dirinya masuk PAN dan jadi bupati karena Nur Alam.

Bupati Mubar itu berharap agar kisruh internal PAN jangan membawa-bawa nama Nur Alam. Karena persoalan saat ini tidak ada kaitannya dengan Nur Alam.

“Nur Alam itu, seorang tokoh nasional yang penuh kharismatik. Paham dengan orang, kreatif dalam membangun partai. Jadi jangan digiring dengan masalah partai saat ini,” ungkap Rajiun.

Meski demikan, ia mengaku masuk sebagai kader PAN karena mantan Gubernur Sultra itu. Begitu juga jadi bupati karena peran Nur Alam. Bahkan patut diakui mantan Walikota Kendari, Asrun juga dibesarkan Nur Alam.

“Hari ini saya lahir dan dibesarkan Nur Alam. Dan itu benar, saya akui. Termasuk PAN Sultra, dibesarkan Nur Alam. Saya tidak dilahirkan dengan orang tua wali kota, kemudian jadi bupati. Saya ini anaknya guru kemudian jadi bupati, bukan anak wali kota jadi bupati,” centilnya.

Bahkan, lanjut Rajiun, Asrun, ADP, dan Umar Samiun, juga dibesarkan Nur Alam. “Siapa yang katakan PAN ini tidak besarkan dengan Nur Alam. Saya rasa PAN besar dan menjamur diseluruh kabupaten/kota, karena Nur Alam,” tandasnya.

Rajiun memprediksi, tidak menutup kemungkinan PAN kedepan akan runtuh jika dipimpin dengan gaya dinasti. Tentunya ini akan menjadi empati bagi seluruh kader PAN pada tingkatan DPD. “Sudah ada tanda-tanda dengan keluarnya beberapa kader PAN di tingkat kabupaten/kota. Ini menandakan bahwa partai sedang merosot,” kesalnya.

Terpisah, Plt Ketua DPD PAN Mubar, La Koso mengungkapkan, dengan banyaknya kader dan pengurus yang mundur, maka semakin banyak kader, pengurus, dan simpatisan baru yang muncul. “Istilahnya hilang satu tumbuh seribu,” timpalnya.

Dengan demikian, lanjutnya, posisi Asrun-Hugua akan semakin di atas angin. “Tidak akan mempengaruhi posisi Asrun-Hugua. Malahan, saya optimis kedua figur ini bisa menang telak di Mubar,” kata La Ode Koso.

Koso mengaku telah banyak dihubungi pengurus PAN bahwa mereka hanya ikut-ikutan bergabung saat Rajiun bersama beberapa simpatisan dan pengurus melakukan aksi penguduran diri dari partai besutan Zulkifli Hasan itu. “Mereka hanya ikut-ikut saja. Tapi, mereka katakan tidak mundur. Mereka tetap akan loyal terhadap partai dan siap memenangkan Asrun-Hugua,” jelasnya.

Bagi anggota DPRD Mubar, mundurnya Rajiun tidak akan mengurangi jumlah kader terbaik PAN. Masih banyak kader PAN terbaik. Ia menyebut Ketua DPRD Mubar, Munarti, Amiluddin (anggota DPRD Mubar), dan Samad Samsul (anggota DPRD Mubar).

Selama ini, menurut Koso mereka itu loyal terhadap partai, bukan terhadap pribadi Rajiun. “Lagian, Rajiun bergabung di PAN setelah PAN memiliki empat kursi di dewan. Ketua dan dua anggota DPRD itu loyalnya bukan ke Rajiun, tapi ke partai. Buktinya, mereka tidak ikut-ikutan saat aksi pengunduran diri masal itu. Mereka itu kader terbaik,” tuturnya.

Tentunya dengan adanya kader, pengurus dan simpatisan yang mundur, sebagai Plt Ketua, Koso kembali akan melakukan konsolidasi ulang, khususnya untuk memenangkan pasangan Asrun-Hugua. “Kita akan identifikasi DPC yang mundur,” tukasnya.

Terkait beredarnya isu akan adanya pergantian ketua dan dua anggota DPRD, Koso membantahnya. “Tidak akan ada pergantian. Mereka itu kader terbaik. Saya yakin, saat ini mereka sedang berdoa bagaimana cara bisa memenangkan Asrun-Hugua,” tegasnya.

Bagaimana dengan laporan di Polda terkait pengrusakan atribut partai di Rumah PAN? Katanya, laporan telah diterima Polda. Saat ini, pihak Polda akan melakukan penyelidikan. “Kita tugu saja hasil kerja dari aparat kepolisian. Saya yakin, polisi akan bekerja profesional,” tandas mantan anggota DPRD Muna itu.

Sementara itu, La Ode Tariala menyebutkan sembilan kabupaten/kota yang menyatakan keluar dari gerbong PAN diantaranya, Wakatobi, Buton, Buton Tengah, Buton Selatan, Kolaka, Muna, dan Mubar. Kemudian ditambah dengan beberapa pengurus DPW PAN lainnya.

“Sikap ini bentuk kekecewaan kami seluruh pengurus. Sebenarnya selama ini kami bukan loyal kepada partai tetapi loyal kepada bupati, selaku pimpinan partai di Mubar. Beliau bukan hanya menjadi contoh di daerah sendiri, tetapi juga daerah lain,” kata Tariala.

Dengan pemberhentiannya yang diikuti dengan kabupaten lain, kata mantan anggota DPRD Mubar itu, merupakan salah satu bentuk perlawanan terhadap kecerobohan kekuasaan. Orang yang baru saja menjadi pejabat, sudah memecah belah konsentrasi masyarakat.

“Masyarakat Mubar dan Muna turut berduka dengan perlakuan dinasti di Sultra. Tetapi kita akan lawan mereka-mereka yang haus dengan kekuasaan itu. Politik dinasti di negeri ini harus dipangkas dan dibumi hanguskan,” tegas Tariala.

Mantan Ketua Pengurus Harian PAN Mubar juga menimpali pernyaan La Ode Koso yang menilai pasangan Asrun-Hugua akan menang telak. Mensurut Tariala, itu hanya pikiran La Ode Koso. “Intinya, nanti saat pelaksanaan di lapangan dilihat. Kalau seperti itu menurut dia (Koso), nanti kita lihat siapa yang menang di Mubar,” kata Tariala dengan nada menantang.

Ia menerangkan, mundurnya pengurus harian DPD hingga pengurus di Desa Landasi ketersinggungan penonaktian Rajiun Tumada sebagai Ketua DPD PAN Mubar yang saat ini tengah menyusun pembentukan Satgas anti money politik dan sara. “Ini bentuk loyalitas kami pada Pak Rajiun yang inginkan pelaksanaan pesta demokrasi bebas dari politik yang dan isu sara,” tegasnya lagi.

Pernyataan sikap pengunduran diri bukan hanya dari Mubar. DPD Muna juga, Kamis (22/2) ikut bergabung bersama menyatakan sikap pengunduran diri dari PAN.

Pernyataan pengunduran diri dari DPD PAN Muna itu disampaikan salah seorang pengurus DPD PAN Muna, Anwar Halis. Secara tegas ia nyatakan mulai Kamis itu Muna akan bergabung bersama Mubar untuk keluar dari kepengurusan PAN.

“Kami tidak terima Rajiun dizalimi oleh ADP yang baru tumbuh dewasa. Dimana anak calon gubernur Asrun. Kenapa dia bicara loyalitas saat bapaknya jadi calon gubernur. Dimana saat pencalonan dr Baharuddin sebagai calon bupati Muna, dan LM Rajiun Tumada sebagai calon bupati Mubar saat itu? Kenapa nanti sekarang baru berkoar-koar,” sebutnya.

Di kesempatan itu juga Anwar Halis langsung menyatakan sikap menolak untuk memenangkan pasangan Asrun-Hugua. Mereka akan bekerja maksimal untuk memenangkan Ali Mazi-Lukman Abunawas.

“Kita akan potong politik dinasti untuk masuk di Muna sini. Makanya, saya sampaikan agar kita sama-sama mendukung pasangan Ali Mazi-Lukman Abunawas, dan menetang pasangan Asrun-Hugua,” tutupnya. (cr1/p5)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA POPULER

To Top