Rekonstruksi Kasus Pembunuhan Rumah Karaoke di Baubau, Polisi Larang Wartawan Masuk – Buton Pos
Metro Baubau

Rekonstruksi Kasus Pembunuhan Rumah Karaoke di Baubau, Polisi Larang Wartawan Masuk

Wartawan dan masyarakat melihat rekonstruksi dari luar karena dipalang dengan garis polisi

PIHAK Polres Baubau, kemarin melakukan rekonstruksi atau reka ulang kasus pembunuhan di Rumah Karaoke Carver, Palagimata Kelurahan Bukit Wolio Indah. Wartawan pun mendapat kabar dari media sosial yang dikirim salah seorang staf Humah Polres Baubau.

————————————-

SATU per satu wartawan pun mendatangi tempat dilakukannya rekonstruksi kasus pembunuhan itu. Warga sekitar pun datang untuk melihat dari dekat proses rekontruksi. Tapi setelah berada di lokasi yang merupakan TKP pembunuhan itu sudah dipasang garis polisi.

Sebelumnya, seorang staf humas memberikan informasi adanya rekonstruksi kasus pembunuhan di rumah karaoke carver di group media sosial. Dengan mengajak beberapa media untuk gabung mengambil gambar di TKP, namun setelah di TKP ada mis komunikasi antara pihak kepolisian dengan pihak wartawan.

Ketika beberapa wartawan hendak masuk di dalam police line, seorang anggota polisi datang menghampiri dan mengusir wartawan untuk keluar dari police line. Dalam situasi ini sempat adu mulut dan adu argumen namun sudah bisa dilerai oleh beberapa orang.

“Ada teman masuk tapi diusir dan anggota polisi marah, saya bilang jangan marah-marah, tapi dia malah balik dan menggungkapkan dengan perkataan keras seolah menantang. Makanya kita kecewa dengan begini kejadiannya,” ujar seorang wartawan kepada wartawan lain.

Disaat yang sama Tio wartawan lain tidak mempersoalkan jika dilarang masuk melewati polisi line itu. Namun untuk mengambil gambar suasana rekontruksi sangat sulit. Pasalnya sejumlah anggota kepolisian seolah mempersulit wartawan bahkan hanya untuk memotret saja.

“Padahal saya dari luar garis polisi sudah mencoba mengambil gambar, namun tidak bisa karena terhalang oleh beberapa anggota. Akhirnya karena tidak bisa ambil gambar, saya masuk polisi line tapi kena marah dan saya diam tapi dibentak lagi,” bebernya.

Dengan adanya peristiwa ini, para wartawan itu sangat kecewa. Mereka hanya berharap semua petugas tidak menghala-halangi pekerjaan wartawan. Karena wartawan adalah mitra polisi. Apalagi kedatangan wartawan di tempat itu hanya untuk mengekspos kinerja polisi.

Apalagi kedatangan para kulit tinta di tempat tersebut karena adanya status salah seorang staf Humas Polres Baubau di media sosial. Dalam status itu Humas mengisyaratkan mengundang wartawan untuk meliput rekontruksi kasus pembunuhan itu.

“Kalau tidak mau diliput ya.. jangan undang dan memberi tahu kami di grup. Apalagi ini tentang pemberitaan rekonstruksi sehingga kami beberapa wartawan di lapangan harus pergi ke TKP,” tukas wartawan lain.

“Yang jelas kami sangat kecewa dengan adanya pelarangan aktifitas peliputan di lapangan dan juga ada kata-kata yang tidak perlu diungkapkan oleh oknum polisi. Seharusnya kita kan saling kerjasama dan memberitakan kinerja dari pihak kepolisian sudah melakukan rekontruksi,” katanya.

Memang pihak kepolisian mempersilahkan satu wartawan telivisi untuk meliput di dalam polisi line, untuk mewakili wartawan lain. Tapi menurut wartawan lain itu tidak adil. Menurut mereka, dari pada hanya satu yang diizinkan lebih baik tidak usah sama sekali. Apalagi setiap media memiliki cara sendiri dalam mengambil gambar.

“Karena masing-masing media punya cara ambil gambar dan vidio masing-masing serta mempunyai cara pandang berbeda di lapangan. Sehingga kalau hanya perwakilan, belum jelas bisa kita menyesuaikan dengan judul yang akan kita buat pemberitaannya,” tandas wartawan.

Karena itu wartawan sangat menyayangkan adanya tindakan oknum polisi yang melakukan perbuatan tersebut. karena menurut para awak media itu, wartawan dan polisi sama-sama dalam keadaan tugas. Karena itu tidak pantas saling menghalangi dalam bekerja.

Amatan media ini di lapangan, ketika rekonstruksi belum selesai, sejumlah wartawan dari media lokal langsung meninggalkan lokasi. Padahal proses rekontruksi tempat kejadian perkara belum selesai. Namun karena dilandasi rasa kecewa dan rasa dongkol akhirnya beberapa wartawan meninggalkan TKP.

Sementara itu, Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Sulawesi Tenggara, Zaenal A Ishaq saat dihubungi lewat telepon gengam mengatakan, harusnya pihak kepolisian memberikan ruang untuk melakukan peliputan kepada semua wartawan saat melakukan pekerjaannya.

“Harusnya pihak kepolisian memberikan ruang kepada pihak wartawan saat melakukan peliputan. Sepenting apakah peliputan itu dan ini menjadi pertanyaan besar buat kita semua, kenapa rekontruksi yang lain teman-teman wartawan boleh meliput, sedangkan untuk kasus ini tidak boleh,” tanyanya.

Harusnya, kata dia, pihak kepolisian itu tidak tumpang tindih. Rekontruksi apapun kalau pihak kepolisian pingin bekerjasama dengan beberapa media berikanlah ruang dan berikanlah informasi itu. Pihak polisi tidak boleh menutup-nutupi atau tidak boleh menghalangi apalagi tentang kinerja mereka.

“Jadi dalam hal ini pihak kepolisian jangan kaku, apalagi untuk kinerja pihak kepolisian. Jangan hanya ketika ada pemberitaan yang bagus baru minta diliput, bagaimana kalau ada keburukan, masa tidak boleh diliput?” lanjutnya.

Lanjut Zaenal, sedangkan batasan kemitraan antara polisi dengan pihak wartawan seperti apa? kebebasan pers itu seperti apa, teman-teman wartawan boleh melakukan peliputan hanya ada protap-protapnya dan kenapa hanya satu wartawan yang meliput sebagai perwakilan??.

“Kepolisan itu seperti apa, beda mungkin dengan kasus teroris dan kita tidak bisa mendekat karena semua ada aturan mainnya. Coba kita buat berita miring atau tidak sesuai amatan di lapangan, pasti kita sudah ditegur. Oleh sebab itu pihak kepolisian tidak boleh kaku dalam bermitra dengan wartawan yang pada akhirnya untuk kebaikan bersama,” harapnya.

Kasat Reskrim Polres Baubau AKP Diki Kurniawan SH SIk saat mendatangi salah satu media di Kota Baubau beralasan, dia tidak tahu cara kerja wartawan. “Mungkin hal yang wajar karena saya masih baru. Karena hari ini saya sudah tahu cara kerjanya begini, maka kedepannya kita akan rundingkan lagi saat konsep yang ada di lapangan,” tuturnya.

“Soalnya pas tadi di lapangan tempatnya sangat sempit, mulai dari room kecil, apalagi dengan saksi dan tersangka saja sudah ful ruangan, belum lagi penyidik yang bacakan. Sampai-sampai dengan keterbatasan ruangan tersebut pengacaranya sampai keluar dari ruangan karena di dalam panas,” akunya.

Secara pribadi Diki Kurniawan meminta maaf kepada semuanya kalau ada teman-teman di lapangan yang tersinggung karena adanya ketidaktahuan. “Saya pikir semua media sama, makanya saya minta satu media saja yang masuk untuk mewakili teman-teman dan nanti dibagi foto atau vidionya,” katanya.

“Tetapi kalau sudah tahu begini, kita akan pikirkan kedepannya agar semua bisa bekerja dan mendapatkan gambar masing-masing. Hanya mungkin kurang komunikasi dari teman-teman, saya pikir sama semua. Sedangkan oknum yang melakukan pelarangan tersebut kami akan tindaki secara internal,” janjinya.(m4)



BERITA POPULER

Copyright © 2019 Butonpos

To Top