Scale Up ala K-Food – Buton Pos
Metro Baubau

Scale Up ala K-Food

Irwansyah Amunu

Catatan: Irwansyah Amunu

AKHIRNYA Kururio membuka layanan K-Food setelah sekitar delapan bulan diawali dengan ojek dan taksi online. Seperti biasa, layanan ini dimulai dari Baubau.

Soft launching K-Food dilakukan Sabtu (22/2) lalu. Direncanakan, Kururio Food mulai melayani pembeli Senin (24/2) pagi.

Hari Minggu (23/2) ini, pihak Kururio bersama merchant atau penjual menyusun menu untuk dimasukkan di aplikasi. Empat hal yang diminta, nama menu, harga dasar dan harga dasar coret, deskripsi, ditambah foto.

CEO & CO Founder, Eko Prasetyo menerangkan kepada merchant, Kururio mulai beroperasi 25 Mei 2019. Saat itu bermula dari Ojol dan taksi online. Mulai dari Baubau, kini sudah melayani 28 kabupaten/kota di Indonesia. Khusus Sultra sudah berada di 17 kabupaten/kota alias di seluruh jazirah Bumi Anoa.

Hadir sebagai aplikasi lokal, wilayah yang dilayani Kururio kian bertambah. Setelah yang terbaru hadir di Lumajang, Banggai dan Manggarai Barat, sekarang Kururio hadir di Tapanuli Utara.

Teranyar mereka bermitra dengan maskapai Trans Nusa. Tak lama lagi pembelian tiket Trans Nusa akan dilayani dalam bentuk K-Flight. Lebih jauh lagi, seluruh daerah yang merupakan daerah yang dilayani penerbangan Trans Nusa akan dimasuki.

Bentuk kerjasamanya antara lain, membeli tiket Trans Nusa melalui K-Flight mendapatkan voucher Rp 15 ribu bila menggunakan Ojol atau taksi online Kururio.

Berkaitan dengan food delivery melalui K-Food, Eko menambahkan pihaknya bakal bekerjasama dengan Telkom dalam bentuk QR Payment atau barcode setelah Ramadan. Bahkan nantinya ada fasilitas permodalan dan scale up atau peningkatan kapasitas usaha kepada merchant dari Telkom.

Lebih jauh diterangkan apa rahasianya sehingga Kururio bisa bertahan ditengah ketatnya kompetisi. Apalagi yang bergerak di bidang yang sama tidak kurang 50 aplikasi. Yang bertahan hanya dua, Grab dan Gojek.

Eksistensi Kururio karena mereka mempunyai programing. Total berjumlah lima orang, tiga di Jawa Timur, dan masing-masing seorang di Sultra dan Jakarta.

Bukan hanya itu, mereka punya lima server. Tiga di dalam negeri, dua lainnya di luar negeri, Singapura dan Australia.

Jangan heran ketika terjadi pemadaman listrik di pembangkit listrik Jakarta tempo hari, mereka hanya butuh waktu sebentar untuk memindahkan server ke luar negeri. Ketika aplikasi yang lain bertumbangan, mereka tetap eksis.

Kenyataan itulah yang membuat saya gelang-geleng kepala. Kururio, aplikasi lokal, tapi orientasi global. Penggeraknya anak muda dari Baubau. Namun jaringannya mulai menggurita di beberapa daerah lainnya di Nusantara.

Soal namanya saja, mereka menggunakan Kururio. Seratus persen konten lokal. Nama burung di Buton yang berbulu indah, dan bersuara merdu. Mereka ogah menggunakan sebutan yang kebarat-baratan.

Namun demikian jangan sanksikan kiprahnya. Mereka bukan hanya mampu bertahan, bahkan lebih jauh lagi bisa terus mengembangkan sayapnya.

Eko menggaransi Kururio murni digerakkan anak muda Indonesia. Mereka tak mendapatkan sepeserpun sentuhan dana dari investor asing. Dengan harapan, mereka bisa menjadi tuan di negeri sendiri. Lebih jauh lagi, Kururio dapat mewujudkan Rahmatan Lil Alamin.

Saya melihat penjelasan Eko diperhatikan secara seksama oleh puluhan merchant. Diantaranya Rumah Makan Ayam Goreng Silvana, Ayam Lamongan, bakso, martabak, plus penjaja aneka kuliner lainnya.

Mereka yang selama ini menggunakan cara tradisional menjual dagangannya, kini memasuki dunia maya. Dunia industri 4.0 yang digandrungi generasi milenial. Melapak diaplikasi bernama K-Food. Yang belum punya gerai, tidak usah bingung. Mereka akan dicantumkan dalam aplikasi tersebut. Tinggal daftar.

Pendek kata, inilah yang saya sebut dengan Scale Up ala K-Food. (Follow Instagram: @irwansyahamunu)



Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA POPULER

To Top