Tambang Galian C, BLH Klaim tak Berdampak Pada Ekosistem – Butonpos
Suara Muna

Tambang Galian C, BLH Klaim tak Berdampak Pada Ekosistem

ALI IMRAN

BUTONPOS.COM, MUBAR – Penambangan material batu kapur atau yang tergolong tambang galian C di Kabupaten Muna Barat (Mubar) masih marak. Sudah puluhan gunung di beberapa desa sudah diratakan dengan traktor para pemilik proyek. Kegiatan tersebut tidak hanya dilakukan pada lokasi yang tidak didiami warga, di sekitar rumah-rumah warga pun dihancurkan.

Di Desa Lakanaha, Kecamatan Wadaga misalnya, kegiatan pengalian material batu kapur berjarak sekitar 20 meter dari rumah warga. Termasuk kegiatan penambangan material di Kecamatan Lawa, lokasinya tidak terlalu jauh dengan pemukiman, sekitar kurang lebih 50 meter.

Badan Lingkungan Hidup (BLH) Mubar mengklaim, seluruh kegiatan penggalian batu kapur tidak memiliki Analisis Dampak Lingkungan (Amdal). Selama ini BLH belum mengeluarkan Amdal terkait penggalian material tersebut.

“Belum ada Amdal untuk kegiatan penggalian batu kapur, karena belum mencapai volume material 50 ribu kubik. Kalau sudah di atas 50 ribu kubik, baru diwajibkan Amdal,” ungkap Kepala BLH Mubar, Ali Imran.

Menurutnya, penggalian material di bawah 50 ribu kubik hanya surat pernyataan sanggupan pengelolaan lingkungan atau yang dikenal dengan istila SPPL. Disitu ada beberapa catatan yang harus dipatuhi dalam pemanfaatan potensi sumber daya alam, sehingga bisa menjaga kondisi lingkungan dan pencemaran atau kerusakan akibat suatu usaha kegiatan.

“SPPL juga kami belum keluarkan untuk kegiatan penambangan itu. Memang sudah ada laporan mengenai kegiatan penambangan batu kapur ini, tetapi kita akan lakukan dulu penataan,” ujarnya saat dikonfirmasi di rujab Wakil Bupati Mubar, beberapa waktu lalu.

Bahkan mantan camat Kusambi itu menyatakan, kegiatan penambangan tersebut belum bisa dikatakan merusak lingkungan. Kata dia, masuk kategori merusak lingkungan harus dilihat dari kondisi bentangan alamnya di lokasi kegiatan penambangan.

“Kalau merusak bentangan alam berarti ada perubahan ekosistem. Misalnya, debit air berkurang, jadi ada mata air yang perlu dijaga. Kemudian kehidupan jangka panjang manusia, serta perubahan lingkungan yang dapat merugikan masyarakat. Tetapi saat ini kita di Mubar belum ada perubahan ekosistem itu,” klaimnya.

Namun bisa dipastikan, pernyataan kepala BLH tersebut tidak disertai dengan fakta-fakta atau kondisi di lapangan. Sebab, BLH Mubar belum melakukan pendataan terhadap penggalian material batu kapur yang terjadi selama ini. Pihaknya saat ini baru melakukan pendataan terhadap kegiatan yang dilakukan para kontraktor di Mubar.

“Kita sekarang baru menyusun status lingkungan hidup di daerah, termasuk lokasi kegiatan penggalian batu kapur ini. Kendalanya juga kita keterbatasan tenaga untuk bergerak melakukan pendataan kondisi lingkungan dari proses penggalian material tersebut,” tandas Ali Imran. (p5)

Click to comment

BERITA POPULER

To Top