Tragedi Februari – Buton Pos
Metro Baubau

Tragedi Februari

Irwansyah Amunu

Catatan: Irwansyah Amunu

BAUBAU kelabu. Selama Februari ini tercatat tiga kasus kematian tidak wajar di Kota Benteng Terluas di dunia ini.

Mulai dari Kanakea, Simpang Lima, dan Pantai Lakeba. Hingga tulisan ini dibuat belum ada satu pun yang terungkap.

Melihat luka yang terapat pada tubuh korban membuat kita mengelus dada. Tega pelakunya menghabisi nyawa korban. Terlepas apa motif dari setiap kejadian.

Seperti diketahui, akibat dugaan kasus pembunuhan di Kanakea yang belum terungkap membuat Jembatan Gantung sempat diblokir warga. Mereka menuntut agar kasus tersebut segera ditemukan pelakunya.

Tidak berhenti sampai disitu. Warga juga beberapa kali memblokade ruas Jalan Murhum dibilangan perempatan Tugu Kirab. Tuntutannya juga sama.

Akibatnya pengendara terganggu. Mereka harus mencari jalan alternatif lain bila kondisi jalan ditutup.

Belum selesai kasus Kanakea. Publik dikagetkan lagi dengan temuan mayat di Simpang Lima dan Pantai Lakeba.

Sekadar mengingatkan, kejadian di Kanakea, Minggu (16/2). Sepekan kemudian, tepatnya Minggu (23/2), dan Senin (24/2) ditemukan mayat wanita di dua lokasi berbeda.

Dengan kata lain, dalam waktu delapan hari, tiga nyawa melayang. Kanakea menelan korban Marco, sedangkan Simpang Lima (Wa Inni), dan Pantai Lakeba (Wa Devi Putri).

Saya katakan, ini adalah tragedi Februari bagi warga Baubau. Di tengah peringatan MTQ, harusnya suasana khusyuk dibalut religius yang terpancar, bukan sebaliknya, mencekam.

Apalagi Baubau adalah eks pusat Kesultanan Buton yang kental dengan Keislamannya. Tidak sewajarnya kekerasan berujung pembunuhan terjadi di Negeri Khalifatul Khamis ini.

Ditambah lagi, Wali Kota Baubau, Dr AS Tamrin yang getol mengkampanyekan Polima. Bila nilai-nilai kearifan budaya Buton “Sara Pataanguna” Pomaamaasiaka (saling menyayangi), Popiapiara (Saling memelihara), Pomaemaeaka (Saling menghargai), Poangka-angkataka (saling mengangkat martabat dan toleransi), dan kemudian dilengkapi dengan Pobincibinciki kuli (saling menjaga perasaan) menjadi pijakan perpikir dan tingkah laku, niscaya Tragedi Februari tidak terjadi.

Semoga pihak aparat segera menemukan pelakunya. Seraya berharap kejadian serupa tak terulang lagi.

Ayo bersama jaga Kamtibmas di Baubau. Jangan lagi ada darah yang tumpah tanpa hak.

Alhasil, mari kita renungkan bersama hadits Nabi Muhammad SAW: “Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455). (Follow Instagram: @irwansyahamunu).



Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA POPULER

To Top