Warga Bandar Batauga Blokir Jalan – Buton Pos
Suara Buton Selatan

Warga Bandar Batauga Blokir Jalan

BLOKIR: Jalan menuju Kelurahan Bandar Batauga yang diblokir akibat jalan yang belum diaspal, sementara material timbunan menjadi produksi debu dan meresahkan masyarakat.

BUTONPOS.COM, BATAUGA – Setelah dilakukan penimbunan dan pengerasan, poros Bandar Batauga tak kunjung diaspal. Akibatnya, setiap hari warga menghirup udara yang berdebu. Kondisi ini membuat warga resah dan terpaksa harus memblokir jalan.

Diketahui, kurang lebih 98 meter panjang jalan di Kelurahan Bandar Batauga belum tuntas diaspal. Diduga pihak kontraktor tekor menghitung volume jalan, sehingga aspal yang digunakan minus. Sementara volume pekerjaan masih ada hingga menyisahkan polusi udara.

Jalan poros Bandar Batauga ini merupakan jalan yang sering dilalui truk pengangkut material pasir. Sehingga warga tiap hari menghirup udara tak segar, akibat bercampur debu material timbunan jalan.

Kadis PUPR Busel, La Ode Muhammad Idris mengatakan, proyek jalan di Kelurahan Bandar Batauga menelan anggaran melalui APBD tahun 2018 kurang lebih Rp 700 juta. Pihak ketiga sebagai pelaksana kegiatan, CV Mega Cipta Mandiri. Sisa volume jalan yang belum teraspal kurang lebih 98 meter.

Lanjut dia, berlum teraspalnya sisa volume jalan itu, karena pihak kontraktor melakukan DO aspal tidak cukup. Sementara realisasi pekerjaan fisik baru mencapai 85 persen. Sementara uang proyek yang cair itu baru uang muka. Yang menjadi kendala sehingga terjadi persoalan saat ini, karena pihak kontraktor salah menghitung tonase

“Dia salah berhitung tonase. Dia dikira dengan tanah (timbunan) segitu. Kan untuk mengukur ketebalan 4 cm itu dengan panjang yang ada dikontrak itu tidak bisa diprediksi, dalam pelaksanaan bisa saja ada yang lima cm, ada 6 cm dan 4 cm, ketebalannya,” katanya ketika dikonfirmasi, kemarin.

Menurutnya, tonase yang dimiliki itu tidak cukup dengan panjang yang ada dikontrak. Yang pasti, kata dia, proses pekerjaannya tetap dilanjutkan.

Idris menyatakan, pihak kontraktor yang mengaspal jalan poros Bandar Batauga meminjam alat berat dari perusahaan lain. Pada saat pengasapal jalan itu, mereka DO aspal tidak cukup, sementara alat berat pada saat itu juga harus dipakai di tempat lain. Setelah dialihkan ke lokasi lain, maka mereka harus menunggu antri kembali untuk menggunakan alat berat itu guna menyelesaikan pekerjaannya.

“Hanya saja, finiser yang dipakai di kabupaten/kota di wilayah kepulauan Buton ini hanya ada tiga saja. Yakni finisernya Cheng-Cheng, Finisernya Yusran, Finisernya Toni. Sementara finiser yang dimiliki Edison sementara rusak,” katanya.

Karena itu, untuk menuntaskan kembali sisa pengaspalan jalan itu pihak kontraktor harus menunggu antrean lagi. Sehingga setiap order aspal itu beriringan dengan finisernya.

“Jadi mereka harus menunggu lagi, nanti selesai pekerjaan di daerah lain. Apalagi saat ini dipakai bandara selama dua minggu, jadi menunggu selesai itu baru lanjut lagi kerjaan, jadi dia antre,” katanya.

Atas persoalan belum teraspalnya jalan di Kelurahan Bandar Batauga ini, Idris mengaku sudah memberikan teguran kepada pihak kontraktor, bahkan sudah diundang ke kantor untuk menindaklanjuti percepatan proses pengerjaan itu. “Sudah berkali-kali kita lakukan teguran, bahkan sudah dipanggil di kantor,” imbuhnya.

Hanya saja ia, Idris menyayangkan pihak kontraktor yang menyalahkan pihak perencana. “Ini kontraktornya rada-rada aneh,” kesalnya.

Idris juga menegaskan, bahwa warga tidak perlu khawatir, karena pengaspalan jalan tersebut tetap akan dilanjutkan. Meskipun sudah 85 persen pekerjaan fisiknya, tapi pihaknya baru membayarkan uang muka. “Jadi kalau dia tidak berkewajiban melanjutkan pekerjaannya, maka kita bayarkan sesuai volume yang dikerjakannya,” sambungnya.

“Jadi masalahnya ada pada tonase. Jadi aspal itu tidak ada yang pas-pasan karena untuk mengukur ketebalan 4 cm itu. Karena kita tidak mengaspal di atas kaca ini, jadi pasti dia kurang, semua kontraktor juga sudah paham,” tambahnya.

Ia memastikan pihak perencana sudah menghitung sesuai dengan panjang dan volume jalan. “Jadi kalau dia lebih, maka sumbangan kepada negaralah. Tapi kalau dia kurang, maka saat pemeriksa akan dikenakan denda kelebihan pembayaran,” pungkasnya.

Idris menambahkan, jalan yang belum teraspal itu tetap akan dilakukan percepatan percepatan pengaspalan jalan. Untuk itu masyarakat di Kelurahan Bandar Batauga tak perlu khawatir. (aga)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA POPULER

To Top