Wasalamata dan Wasalabose – Buton Pos
Metro Baubau

Wasalamata dan Wasalabose

Irwansyah-Amunu
Irwansyah Amunu

– Islam di Negeri Khalifatul Khamis (19)

KEHEBATAN Boti atau Lambo tidak saja tersaji dalam dunia nyata. Spiritnya juga terimplementasi dalam mitos: Wasalamata dan Wasalabose.

Antropolog Unhas, Dr Tasrifin Tahara menjelaskan Wasalamata dan Wasalabose merupakan metafor.
Salamata (orang salah melihat) salabose (salah berlayar), dengan kata lain kita
tidak bisa menebak kemana arah berlayar.

Spiritnya ada disitu, kata Tasrifin, Lambo atau Boti bisa menjelajahi samudera dengan perkasa.

Lebih lanjut, Wasalamata dan Wasalabose adalah mitos tentang pelayaran orang Buton, dibangun sebagai penguatan struktur dalam masyarakat yang posisinya setara dengan Ternate. Bisa berlayar dalam waktu sekejap semisal pagi berawal di Buton, tiba siang salat Jumat di Ternate.

Mengapa harus disetarakan dengan Ternate Bukan Kesultanan atau kerajaan lain? Tasrifin mengulas karena Ternate berusaha
menaklukkan Buton makanya dibangun spirit itu.

Tasrifin melanjutkan, masa ketegangan hubungan antara Buton dan Ternate terjadi pada masa Sultan ke-8,
Sultan La Cila (1647-1654). Intinya mitos ini perlawanan kultural untuk melawan hegemoni armada Ternate.

Dampaknya secara internal bisa menjadi spirit bagi masyarakat Kesultanan Buton untuk bangkit menjadi negara yang kuat. Secara eksternal setidaknya Ternate tidak melihat Buton sebagai negara yang lemah.

Saat itu sering terjadi perang antara Buton dengan Ternate. Tasrifin mengaku, Armada Tobelo cukup kuat bahkan dalam salah satu versi, Buton takluk dalam hegemoni Ternate dan Sultan Baabullah mengislamkan Buton.

“Tapi itu salah satu versi ya. Disinilah pentingnya mitos Wasalabhose dan Wasalamata,” tandasnya.

Secara terpisah, dosen Unidayan, Dr La Ode Abdul Munafi mengaku untuk sementara belum memiliki referensi tentang hal ini. Tapi mitologi wasalamata dan wasalabose adalah area menarik dalam kajian antropologi. Mitologi ini merefleksikan
kentalnya wawasan kemaritiman dalam budaya Buton.

La Ode Abdul Zainuddin Napa (Kadis Pariwisata Buton), Safrin Sappe (Kadis Pariwisata Buton Tengah), Harlin
Hari (Kadis Pariwisata Buton Utara), dan Mukmin (Kadis Pariwisata Buton Selatan) mengaku pernah mendengar mitos tersebut.

Hanya saja menurut Zainuddin, setahunya bukan Wasalamata, tapi Wasilomata. Begitupun dengan Harlin. “Ya,
Wasilomata dan Wasalabose, ini kita abadikan nama desa di Butur,” jawabnya.

“Pernah tapi sudah lupa-lupa,” timpal Safrin dihubungi melalui WhatsApp-nya ditanyakan ihwal Wasalamata dan Wasalabose.

Sekadar diketahui, salah satu desa di Kecamatan Mawasangka, Buteng juga terdapat nama Desa Wasilomata. Apakah ada
kaitannya dengan Wasalamata? Wallahualam.(Follow Twitter: @irwansyahamunu)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA POPULER

To Top