yuk Intip Napak Tilas Perjalanan Guru Besar Syaik Syaid Abdul Wahid – Buton Pos
Metro Baubau

yuk Intip Napak Tilas Perjalanan Guru Besar Syaik Syaid Abdul Wahid

PROSESI ADAT TUTURANGIANA BATUPOARO

MASUKNYA ajaran Islam di Buton pertama kali ditandai dengan suatu peristiwa datangnya seseorang yang ketika itu dipandang sebagai orang asing, karena cara berpakaiannya yang belum pernah dilihat model berpakaiannya seperti demikian itu oleh masyarakat di Burangasi.

Masyarakat sara Burangasi Kadie Lapandewa menjemputnya dan menelusuri asal usulnya, ternyata seorang ulama terkenal yang bernama Syiak Syaid Abdul Wahid bin Sulaiman bin Syarif Ali bin Muhammad Idrus. Mendarat di Burangasi sebuah dusun Rampea pada tahun 1526 M bertepatan dengan tahun 993 H, yang kemudian mendirikan langgar disebuah Masjid Babul Awal.

Drs La Ode Djabaru MSi sebagai mana yang dikisahkannya dalam acara ritual Tuturangiana Batupuaro, Jumat (13/10/17), Syaik Syaid Abdul Wahid mengenal Buton ketika Raja Tua Rade berkunjung kedua kalinya di Ternate.

“Bertemu dengan salah seorang guru besar agama Islam bernama Syaik Ahmad bin Qais Al Idrus, dan berharap kepada Syaik Ahmad bin Qais Al Idrus untuk memberikan dakwa Islam di Kerajaan Buton, permintaan itu disanggupi tetapi belum sempat dilaksanakannya Syaik Ahmad bin Qais Al Idrus kemudian mengamanahkan kepada muridnya Syaik Syaid Abdul Wahid dan menerima amanah tersebut dengan besar hati untuk menuju ke Buton melakukan syiar Islam,” kisah La Ode Djabaru.

Islam secara resmi diterima sebagai agama Kesultanan Buton pada tahun 1542 M bertepatan dengan tahun 948 H,
setelah kurang lebih 40 tahun Syaik Syaid Abdul Wahid menyiarkan syariat Islam sampai pada tingkat tasauf khususnya pada kalangan pemangku adat kesultanan.

“Maka Syaik Syaid Abdul Wahid meminta izin kepada sara untuk meninggalkan Buton dengan membawa istrinya Watampaidlongi, sedangkan anaknya Syaik Syaid Jamaluddin ditinggalkan di Buton sebagai pengganti dirinya,” jelas La Ode Djabaru.

Kepergian Syaik Syaid Abdul Wahid cukup menghebohkan masyarakat.

“Yang selama ini dianggap telah berjasa besar atas penyebaran Islam, seluruh rakyat tidak ikhlas melepaskan kepergiannya seorang guru besar,” jelas La Ode Djabaru.

Syaik Syaid Abdul Wahid telah menyiapkan diri untuk meninggalkan Buton, dipersiapkannya batu besar yang dimuat diatas sampan gandeng diantar di tengah laut, kemudian menghadap ke daratan untuk disaksikan semua orang yang berada di pesisir pantai.

Batu dijatuhkan ke dalam air laut sambil melambaikan tangan meninggalkan Buton. Batu tersebut yang sekarang dikenal dengan sebutan Batupoaro. Batu bersejarah ini berada tepat di Kelurahan Wameo, Kecamatan Batupoaro, Kota Baubau.

Sejak beberapa tahun terakhir hingga sekarang (2017, red), pemerintah daerah menyelenggarakan ritual adat yang dinamai Ritual Adat Tuturangiana Batupoaro.  (po3)

BERITA POPULER

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!